BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Penangkapan Ikan

Penangkapan ikan menurut sejarah sekitar 100.000 tahun yang lalu telah dilakukan oleh manusia Neanderthal, dengan menggunakan tangan yang kemudian berkembang terus menerus secara perlahan dengan menggunakan alat bantuan  berupa batu, kayu, tulang, dan tanduk.

Seiring dengan perkembangan budaya, manusia memulai teknologi dengan perahu sederhana berupa sampan. Begitu pula ketika ditemukan mesin uap pada tahun 1769 oleh James Watt, kapal-kapal uap sangat berpengaruh dalam menarik alat tangkap berupa jaring yang di seret ke daratan dengan membawa ikan.

Kini di abad moderen perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang pesat membuat penangkapan ikan menjadi lebih mudah, berbagai negara melakukan moderenisasi penangkapan. Dan jepang merupakan negara asia yang sangat maju dalam hal teknologi, alat komunikasi dan penanganan hasil penangkapan telah dilakukan dengan sangat baik.

1.2 Perkembangan Teknik Penangkapan Ikan

Dalam beberapa hal perkembangan metode penangkapan sangatlah lambat, sebagai contoh dari dulu hingga saat ini alat pancing penggunaannya tidak berbeda jauh mata kail diberi umpan dan ikan ditarik penuju pancingan, namun bukan berarti tidak ada perubahan karena semakin teknologi berkembang dan kebutuhan manusia pun bertambah.

Kita kini mengenal Longe Line salah satu alat tangkap yang menggunakan mata kail yang sangat banyak sehingga hasil yang di dapat lebih besar. Begitu pun dengan Fishing Ground yang memiliki jarak yang lebih jauh dari pantai. Adapun perubahan tenaga manusi yang perannya digantikan oleh mesin dan alat untuk lebih memudahkan dan mengefektifkan waktu yang ada.

1.3 Penangkapan Ikan di Indonesia

Alat tangkap dan teknik penangkapan ikan di Indonesia pada umumnya nelayan masih bersifat tradisional. Dilihat dari perinsip penagkapan ikan di Indonesia para nelayan lebih memanfaatkan sifat-sifat yang dimiliki ikan.

Misanya pada perairan di Sulawesi Selatan nelayan lebih banyak menggunakan Sero, yaitu alat penangkap ikan dengan teknik menghadang ikan dan menggiring ke arah tertentu sehingga ikan terjebak dan tak bisa kembali ke perairan luas.

BAB II

PEMBAHASAN TRAP

2.1 Pengertian Umum

Trap (perangkap) adalah alat penangkap ikan yang dipasang seara tetap di perairan dalam jangka waktu tertentu tang memudahkan ikan masuk namun menyulitkan ikan untuk keluar, Alat ini biasanya dibuat dari bahan alami,seperti bambu kayu, atau bahan buatan lainnya seperti jaring dengan ataupun tanpa umpan.

2.2 Jenis dan Dekripsi Trap

Ada beberapa jenis alat penangkap ang termasuk trap. Ada yang dioperasikan di permukaan air seperti bubu hanyut untujk menangkap ikan terbang,tetapi kebanyakan dioperasikan di dasar perairanuntuk menangkap ikan demersal. Beberapa jenis alat penangkap yang termasuk trap yaitu : Bubu, Sero, Jermal, Ambai, Set Net, Perangkap Ikan Peloncat.

Jenis Trap

2.3 Bubu

Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “ guiding barriers “.

Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :

©    Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan.

©    Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan.

©    Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan.

Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang lain seperti :

Bubu Jermal: Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang surut (tidal trap).

Bubu Ambai: Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut ukuran kecil.

Bubu Apolo: Hampir sama dengan bubu ambai, bedanya ia mempunyai 2 kantong, khususmenangkap udang rebon.

2.3.1 Bubu Dasar

DESKRIPSI

Alat ini terbuat dari anyaman bambu,anyaman rotan, anyaman kawat. Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti selinder, setengah lingkaran,empat persegi panjang, segitiga memanjang, dan sebagainya.dalam pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa uampan.

JENIS

Merupakan alat tangkap ikan pasif dengan jenis yang beragam, berbentuk anyaman dengan bentuk bubu yang bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo`s splitting or-screen).Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung.Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar.

CARA PENGOPERASIAN

Sebelum alat penangkap dimasukan kedalam perairan maka terlebih dahulu menentukan daerah penangkapan.penentuan daerah penangapan tersebut didasarkan pada tempat yang diperkirakan banyak ikan demersal ,yang biasanya ditandai dengan banyaknya terumbu karang atau pengalaman dari nelayan.

Dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu berukuran besar), bisa ganda (umumnya bubu berukuran kecil atau sedang) yang dalam pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan bubu tersebut. Bubu dipasang di daerah perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan. Bubu dilengkapi dengan pelampung yang dihubungkan dengan tali panjang. Setelah bubu diletakkan di daerah operasi, bubu ditinggalkan.

Bagi bubu yang tidak manggunakan umpan, setelah tiba di daerah penangkapan,maka dilakukan penurunan pelampung tand dilanjutkan penurunan bubu beserta pemberatnya,sedangkan bubu yang menggunakan umpan (biasanya dari ikan) terlebih dahulu dimasukan umpan alu di masukan kedalam perairan.setelah dianggapposisinya sudah baik maka pemasangan bubu dianggap selesai., untuk kemudian diambil 2-3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari.

DAERAH PENANGKAPAN

Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.

MUSIM

Tidak ada musim khusus untuk Bubu Dasar.

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.

BUBU DASAR

2.3.2 Bubu Hanyut

DESKRIPSI

Alat ini terbuat dari anyaman bambu,anyaman rotan, anyaman kawat. Pada prinsipnya alat penangkap ini sama dengan bubu dasar.hanya alat ini dikhususkan untuk menangkap ikan terbang(flying fish)pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa uampan.

JENIS

Merupakan alat tangkap ikan pasif yang di hanyutkan di perairan dengan pintu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar. Sedikit berbeda dengan Bubu Dasar karena tidak menggunakan pemberat.

CARA PENGOPERASIAN

Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya menjadi banyak, antara 20-30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang akan digunakan dalam penangkapan.

Operasi penangkapan dilakukan sebagai berikut :

Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.

Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).

Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur sampai + antara 60-150 m, atau dapat juga dengan cara :

Pada fishing ground yang dianggap banyak terdapat ikan terbang.alat penangkap ini di rangkai sedemikian rupa, sehingga dalam satu rangkaian terdiri dari 4-6 rangkaian bubu.kemudian bubu tersebut diturunkan keperairan. Bubu tersebut tidak diberi pemberat sehingga alta penangkap tersebut terapung di permukaan air.pada saat operasi penangkapan ikan dilakukan,alat penangkap ini diikatkan pada perahu,dengan demikian ia akan ikut hanyut bersama perahu sesuai dengan arah arus.

DAERAH PENANGKAPAN

Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.

MUSIM

Alat ini dioperasikan pada musim timur yaitu musim pemijahan dari ikan terbang dilaut flores, sehingga dapat dikatakan alat penangkap ini hnaya dioperasikan hanya pada musim-musim tertentu.

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish).

2.3.3 Bubu Kepiting

DESKRIPSI

Alat ini umumnya terbuat dari anyaman kawat. Merupakan alat tangkap ikan pasif  termasuk kedalam bubu dasar namun hanya menjebak kepiting, rajungan dan lobster.

JENIS

Bentuknya ada yang selinder dan persegi, dan sebagainya.dalam pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa uampan.

CARA PENGOPERASIAN

Sebelum alat penangkap dimasukan kedalam perairan maka terlebih dahulu menentukan daerah penangkapan.penentuan daerah penangapan tersebut didasarkan pada tempat yang diperkirakan banyak kepiting.

Dalam operasional penangkapannya bubu dijatuhkan kedasar permukaan air dan ditinggal dalam jangka waktu tertentu. Ketika sudah dirasa cukup maka bubu diangkat kepermukaan air (biasanya dala jangka 2-3 hari).

DAERAH PENANGKAPAN

Dalam operasi penangkapan, bubu kepiting hampir sama dengan bubu dasar.

MUSIM

Tidak ada musim khusus untuk Bubu Dasar.

HASIL TANGKAPAN

Kepiting, rajungan, dan lobster

2.3.4 Bubu Bambu

DESKRIPSI

Sesuai dengan namanya bubu ini terbuat dari bamboo dengan kegunaan seperti layaknya bubu.

CARA PENGOPERASIAN

Pemasangan bubu ini di perairan, bisa dipasang satu demi satu kemudian di untai atau dipasang dua atau tiga bubu dalam satu ikatan kemudian di pasang dengan cara diuntai dengan jarak satu dan lainnya 5-6 m.

DAERAH PENANGKAPAN

Perairan pantai yang dasar perairannya berlumpur, berlumpur bercampur pasir atau perairan yang banyak dihuni oleh ikan yang akan dijadikan target tangkapan.

MUSIM

Disesuaikan dengan musim ikan yang akan dijadikan target tangkapan di daerah masing-masing.

HASIL PENANGKAPAN

Ikan lindung

2.3.5 Bubu Wadong

DESKRIPSI

Alat ini sifatnya pasif, dipasang menetap di tempat yang diperkirakan akan dilewati oleh kepiting. Keseluruhan dari alat ini terbuat dari bahan bambu termasuk alat pemanngcang dan alat penusuk umpan.

CARA PENGOPERASIAN

Pemasangan wadong di daerah penangkapan dipasang secara tunggal atau satu persatu terpisah dari yang lainnya. Dalam satu kali operasi bisa dipasang sebanyak 10-20 buah wadong. Pemasangan wadong biasanya di sore hari pada waktu air surut d di angkat saat pagi hari selagi air surut. Semua kegiatan dilakukan secara manual baik dengan sampan maupun tanpa sampan.

DAERAH PENANGKAPAN

Daerah penangkapan yang umum dijadikan tempat untuk meletakan wadong adalah di sekitar akar-akar pohong mangrove atau di tempat yang diperkirakan akan dilalui kepiting. Kedalaman antara 40-50 cm pada waktu surut.

MUSIM

Musim penangkapan  umumnya dilakukan sepanjang tahun.

HASIL PENANGKAPAN

Kepiting Bakau

2.3.6 Bubu Gurita

DESKRIPSI

Penangkapan gurita umumnya dilakukan di Indonesia biasanya hanya dilakukan dengan cara menggunakan tobak dimana cara penombakannya dilakukan dengan cara sambil menyelam. Alat tangkap yang secara khusus digunakan untuk menangkap gurita dikatakan masih belum ada. Bubu ini bisa terbuat dari keramik ataupun cangkang kerang jenis Scaphara subcrenata, Rapana thomasiana, dengan ukuran panjangnya antara 15-20 cm atau jenis cangkang kerang lain dengan ukuran yang hamper sama. Biasanya bubu gurita dioperasikan di Jepang.

CARA PENGOPERASIAN

Metode pengoperasian dari bubu gurita pada prinsipnya hampir sama dengan metode pengoperasian bubu lainnya hanya saja dalam pengoperasian bubu gurita tidak menggunakan umpan. Lama perendaman tergantung nelayan yang mengoperasikan sesuai dengan penalaman, tapi pada umumnya antara 2-3 hari. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari.

Pemasangan bubu di daerah penangkapan dipasang atau satu demi satu kemudian diuntai dengan jarak satu sama lainnya 6-10 m. Dalam satu set bubu biasanya antara 20-30 bubu atau dari kapasitas perahu, bubu yang tersedia dan kemampuan nelayan mengoperasikannya.

DAERAH PENANGKAPAN

Daerah penangkapan adalah daerah penangkapan yang mempunyai dasar perairan lumpur berpasir, berarus kecil dengan kedalaman antara 5-40 m. Daerah penangkapan yang berarus cepat tidak cocok untuk pengoperasian bubu gurita.

MUSIM

Musim penangkapan disesuaikan dengan musim keberadaan gurita di daerah penangkapan masing-masing. Musim memijah akan lebih mudah untuk memasuki bubu, tetapi musim setelah memijah lebih akan susah untuk memasuki bubu.

HASIL PENANGKAPAN

Gurita jenis Ocellated octopus – Octopus ocelatus, Octopus vulgaris dan jenis lainnya.

2.4 Sero

DESKRIPSI

Alat penangkapan ikan yang dipasang secara tetap di dalam air, yang biasanya terdiri dari susunan pagar-pagar yang akan menuntun ikan menuju perangkap. Alat  ini biasanya terbuat dari kayu, waring, atau bambu. Terdiri dari bagian-bagian yaitu : (a) penanju ( leading net) yang berfungsi untuk menghadang ikan dalam renang ruayanya khususnya ikan-ikan yang beruaya pada saat pasang naik; (b) daerah bunuhan, biasanya terletak pada bagian yang lebih dalam.

CARA PENGOPERASIAN

Dalam operasi penangkapannya sangat sederhana karena setelah alat penangkap ini dipasang diperairan diharapkan ikan-ikan yang melewati penanju dari alat tangkap ini akan masuk kedaerah bunuhan. Pada saat air surut pengmbilan ikan didaerah bunuhan segera dilakukan. Dieropa barat seperti perancis dan italia alat tangkap sejenis sero yang terbuat dari benang multifilamen disebut fyke net.

DAERAH PENANGKAPAN

Pemasangan alat tangkap ini hanya bisa dilakukan pada daerah-daerah yang landai sedikit miring. Nelayan banyak memasangnya pada daerah-daerah pinggir pantai.

MUSIM

Alat tangkap sero ini tidak memiliki musim khusus, karena lebih bergantung ke pasang-surut.

HASIL TANGKAPAN

Ikan sidat

2.5 Jermal

DESKRIPSI

Jermal adalah perangkap pasang surut (tidal trap) yang merupakan ciri khas alat penangkapan yang terdapat di perairan Sumatera bagian Utara. Pada prinsipnya,jermal ini terdiri dari jajaran tiang-tiang pancang yang merupakan sayap, jaring jermal dan rumah jermal. Jajaran tiang pancang terbuat dari pohon nibung (Oncosperma spp), kayu pohon bakau (Rizhopora spp), kayu tengar (Ceriop spp) berukuran panjang antara 12–15cm, garis tengah 10-20cm. Jaring jermal terdiri dari tiga bagian : mulut, badan, dan kantong. Jaring jermal ini bentuknya bisa menyerupai tikar (jermal biasa), berbentuk kantong (bubu jermal atau jaring kantong jermal), berbentuk gabungan antara tikar dan kantong (kilung bagan, ambai jermal), rumah jermal, merupakan plataran (platform) tempat kegiatan perikanan jermal dilakukan. Jarak pemasangan jermal biasanya sekitar antara 3-6mil dari pantai. Untuk pengoperasional jermal tidak diperlukan perahu atau kapal. Perahu atau kapal hanya digunakan sebagai alat transportasi, untuk mengambil hasil tangkapan.

CARA PENGOPERASIAN

Cara pengoperasian penangkapan ikan yang dilakukan dengan jermal adalah dengan menekan galah yang terdapat pada kanan atau kiri mulut jaring ke bawah sampai di dasar sehingga mulut kantong jaring terbuka secara sempurna. Kemudian tunggu antara 20-30 menit sementara menunggu diangkat. Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dengan menutup mulut jaring dengan cara mengangkat bibir bawah ke atas sehingga menyatu dengan bibir atas, kemudian diikuti mengangkat bagian-bagian tengah kantong melalui katrol-katrol. Pengambilan hasil dilakukan dengan membuka ikatan tali pada ujung belakang kantong.

DAERAH PENANGKAPAN

Depth dari fishsing ground harus diperhitungkan dengan menggunakan bambu atau kayu. Sebagai pancang jaring akan lebih stabil berada di tempat juga bentuk jaring dalam air akan lebih dapat dikontrol karena jika kedalaman terlalu dalam maka penggunaan bambu atau kayu sebagai pancang akan mengalami kesukaran dan kita haruslah menggunakan jangkar.

Arus pada daerah fishing ground haruslah sekecil mungkin ataupun tidak ada sama sekali. Akibat dari arus, jaring akan mengalami perubahan bentuk, menghalang-halangi ikan yang akan memasuki jaring, juga kita akan mengalami kesukaran pada waktu pengangkatan jaring (operasi). Pada tempat yang berarus kuat, jaring akan lekas rusak.

Fishing ground haruslah terlindungi dari angin yang kuat, karena akibat hembusan angin akan menimbulkan gelombang. Hal ini akan mempersukar kerja operasi.

MUSIM

Saat pasang-surut terjadi, karena memanfaatkan ikan yang mengikuti arus (biasanya arus pasang surut).

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan dari pengoperasian alat tangkap jermal tersebut, terutama jenis-jenis sumberdaya perikanan pantai. Di antaranya yaitu biang-biang (Setipinna spp), bulu ayam (Engraulis spp), kasihmadu (Kurtus indicus), nomei (Harpodon spp), gulamah (Scinea spp), puput, matabello (Pellona spp), bawal putih (Pampus argentus), tenggiri (Sconberomorus spp), mayung (Arius spp), jenis-jenis udang, golok-golok (Chirosenrus spp), kakap (Lates calcarifer), senangin (Polynemus spp) selanget (Dorosoma spp), beloso (Sourida spp), pari (Rays), dan lain-lain

2.7 Set Net

DESKRIPSI

Jika dilihat dari  segi prinsip penangkapan, maka set net sebenarnya hamper sama dengan sero. Namun, set net sudah lebih maju, jaringnya sendiri merupakan bangunan dalam air. Alat tangkap jenis ini berkembang baik di Jepang.

JENIS

Jenis alat tangkap ini yang lebih banyak dibedakan karena ukurannya. Yang berukuran sedang biasanya disebut dengan “hisago-ami’, yang berukuran besar biasa disebut dengan “otoshi-ami”, juga ada yang ukuran lebih besar tetapi lebih lengkap biasa disebut dengan “masu-ami”.

CARA PENGOPERASIAN

Cara pengoprasian set net seperti halnya alat tangkap sero dimana memanfaatkan ikan-ikan yang senang bermigrasi ke daerah pantai dan set net tersebut di pasang di daerah yang dilalui oleh ikan. Sehingga jalan yang dilalui ikan ini dihadang oleh lead net, akibatnya ikan akan masuk ke jaring.

Prinsip penangkapannya adalah mengusahakan gerombolan ikan untuk memasuki jaring, setelah di hadang dan diajak dengan lead net adalah apabila gerombolan ikan menjumpainya maka ikan-ikan tidak akan merubah ruayanya kearah lain tetapi akan sejajar dengan arah lead net yang mengarah ke mulut jarring. Dengan demikian, lead net bukan saja berfungsi sebagai penghadang tetapi juga mmengajak ikan ke arah jaring.

DAERAH PENANGKAPAN

Pemasangan alat tangkap ini dilakukan pada daerah-daerah yang landai sedikit miring, pada daerah-daerah pinggir pantai. Karena memanfaatkan ikan yang bermigrasi ke pantai.

MUSIM

Saat pasang-surut.

HASIL TANGKAPAN

Jenis-jenis ikan seperti ekor kuning, kembung, sardine, salmon, cakalang, dan lain-lain.

2.8 Penangkap Ikan Peloncat

Ikan peloncat seperti belanak dan ikan melayang seperti ikan terbang dapat ditangkap di permukaan air di dalam kotak, rakit, perahu, jarring (veranda nets). Kadang-kadang ikan dikejutkan agar melompat keluar air.

DAFTAR PUSTAKA

©  http://fiqrin.wordpress.com/

©  Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut di Indonesia.Nomor 50 Th. 1988/1989.

©  Edisi khusus. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut.

©  Ayodhyoa, A.u. M.Sc. 1974. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Jakarta.

©  Fridan, A.L. 1988. Perhitungan Dalam Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.

©  Mihata, T. 1990. Cataloque of Small Scale Fishing Gear. FAO. USA

©  Subani, Waluyo, Drs.1989. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.

©  Sudirman. Ir. M.Pi.dan Mallawa, Achmar. Prof. Dr. Ir. DEA. 2004. TeknikPenangkapan Ikan. PT RINEKA CIPTA. Jakarta

©  Martasuganda Sulaeman, 2003. Bubu (traps). Departemen PSP, edisi perdana, IPB. Bogor

©  Nedelec, 2000. Definisi dan Klafikasi Alat Tangkap Ikan. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang