BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Kata Pengantar

Reproduksi adalah salah saatu cara suatu mahluk hidup mempertahankan kelangsungan hidupnya. Begitupun juga denga ikan, ikan merupakan salah satu mahluk hidup yang melakukan reprodusi untuk melestarikan/melangsungkan kehidupannya.

Pada dasarnya, ikan bersifat ovivar (bertelur). Jadi ikan melakukan reproduksi dengan cara bertelur.

Ikan melakukuan reproduksi pada sdaat musim ikan itu m,elakukan reprodusi, seiap ikan musimnya berbeda-beda. Musim reprodusi/pemijahan ikan mempengaruhi terhadap umlah telur yang dihasilkan ikat tersebut. Jika pada musimnya ikan akan mengeluarkan telur yang banyak. Selain itu juga jumlah telur yang dihasilkan dipengaruhi olehketersediaan atau asupan makanan yang dimakan oleh ikan.

Begitu pula dengan ikan mas. Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan ikan yang bersifat ovivar dalam system reproduksinya. Ikan mas juga merupakan ikan yang reprodusinya di pengaruhi oleh musim. Selain itu juga, jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan mas selain dipengaruhi musim, dipengarus=hi oleh asupan makanan yang dimakan.

Oleh karena hal di atas, dalam praktikum kali ini mempelajari mulai dari seksualitas ikan, tingkat kematangan gonad ikan, indeks kematangan gonad, dan kebiasaan makan ikan.

1.2  Tujuan Praktikum

Tujuan dari mpraktikum kali ini adalah :

  • Mengetahui indeks kematangan gonad ikan mas (Cyprinus carpio)
  • Mengetahui tingkat kematangan gonad ikan mas (Cyprinus carpio)
  • Mengetahui fekunditas dari ikan mas (Cyprinus carpio) , dan
  • Mengidentifikasi food feeding habits dari ikan mas (Cyprinus carpio)

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1 Bagian-bagian Tubuh Ikan

Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang bias menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi.

Ukuran tubuh ikan.

Semua ukuran yang digunakan merupakan pengukuran yang diambil dari satu titik ke titik  lain tanpa melalui lengkungan badan.

- Panjang total (TL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxillae) hingga ujung ekor.

- Panjang standar (SL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxillae) hingga pertengan pangkal sirip ekor (pangkal sirip ekor bukan berarti sisik terakhir karena sisik-sisik tersebut biasanya memanjang sampai ke sirip ekor)

- Panjang kepala (HL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxilla) hingga

bagian terbelakang operculum atau membran operculum.

- Panjang batang ekor (LCP) diukur mulai dari jari terakhir sirip dubur hingga pertengan pangkal batang ekor.

- Panjang moncong (SNL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir hingga pertengan garis vertikal yang menghubungkan bagian anterior mata.

- Tinggi sirip punggung (DD) diukur mulai dari pangkal hingga ujung pada jari-jari pertama sirip punggung.

- Diameter mata (ED) diukur mulai dari bagian anterior hingga posterior bola mata, diukur mengikuti garis horisontal.

- Tinggi batang ekor (DCP) diukur mulai dari bagian dorsal hingga ventral pangkal ekor.

- Tinggi badan diukur (BD) secara vertikal mulai dari pangkal jari-jari pertama sirip punggung hingga pangkal jari-jari pertama sirip perut.

- Panjang sirip dada diukur mulai dari pangkal hingga ujung jari-jari sirip dada.

- Panjang sirip perut diukur mulai dari pangkal hingga ujung sirip perut.

2.2 Perkembangan Gonad

Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya. Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi yang tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses.

Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari system reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya (Hoar & Randall, 1983). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di perairan alami akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan, karena pada saat itu akan terjadi suatu perubahan lingkungan atau kondisi perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah (Sutisna, 1995). Faktor internal meliputi kondisi tubuh dan adanya hormone reproduksi (Redding & Reynaldo, 1993). Adapun faktor internal yaitu tersedianya hormon steroid dan gonadotropin baik dalam bentuk hormone Gonadotropin I (GtH I) dan Gonadotropin II (GtH II) dalam jumlah yang cukup dalam tubuh untuk memacu kematangan gonad diikuti ovulasi serta pemijahan. Sebaliknya bilamana salah  satu atau kedua hormon; tersebut tidak mencukupi dalam tubuh maka perkembangan oosit dalam ovarium terganggu bahkan akan berhenti dan mengalami atresia (Pitcher, 1995)

Faktor lingkungan merupakan stimuli yang dapat ditangkap oleh alat indera ikan seperti kulit, mata dan hidung. Informasi berasal dari lingkungan sampai di otak melalui reseptor yang terdapat pada masingmasing organ sensori.

Tingkat Perkembangan Gonad

Perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian pada pengamatan reproduksi ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari  eproduksi ikan sebelum terjadinya pemijahan. Sebelum terjadinya pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme dalam tubuh dipergunakan untuk perkembangan gonad. Pada saat ini gonad semakin bertambah berat diikuti dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk diameter telurnya. Berat gonad akan mencapai maksimum pada saat ikan akan berpijah, kemudian berat gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung sampai

selesai. Peningkatan ukuran gonad atau perkembangan ovarium disebabkan oleh perkembangan stadia oosit, pada saat ini terjadi perubahan morfologi yang mencirikan tahap stadianya. Pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pertambahan pada jantan sebesar 5-10%. Pencatatan perubahan kematangan gonad dapat digunakan untuk mengetahui bilamana ikan akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara yaitu :

i)                    cara  histologi yang dilakukan di laboratorium,

ii)                 pengamatan morfologi yang dilakukan di laboratorium dan dapat pula di lapangan.

Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Kesteven membagi tingkat kematangan gonad dalam beberapa tahap yaitu:

a. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung, testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa.

b. Dara Berkembang. Testis dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar.

c. Perkembangan I. Testis dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih.

d. Perkembangan II. Testis berwarna putih kemerah-merahan, tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur dapat dibedakan dengan jelas, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisis kira-kira dua pertiga ruang bawah.

e. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testis berwarna putih, keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari telur ini jernih dan masak.

f. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan di perut. Kebanyakan telur berwarna jerinih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal dalam ovarium.

g. Mijah/Salin. Gonad belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang bulat telur.

h. Salin. Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.

i. Pulih Salin. Testis dan ovarium berwarna jernih, abu-abu merah. (Begenel & Braum (1968) dalam Effendie, 1997).

Indeks Kematangan Gonad (IKG)

Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad, tingkat perkembangan ovarium, secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan 100 persen (Effendie, 1979 dalam

Hadiaty, 2000).

IKG = Wg / W x 100%

Wg = berat gonad ; W = berat tubuh ikan

Indeks Kematangan Gonad atau “Gonado somatic Index“ (GSI) akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat terjadi pemijahan. Pada ikan betina nilai IKG lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan.

Penghitungan indeks kematangan gonad selain menggunakan perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan, dapat juga dengan mengamati perkembangan garis tengah telur yang dikandungnya hasil dari pengendapan kuning telur selama proses vitellogenesis. Perkembangan gonad akan diikuti juga dengan semakin membesarnya pula garis tengah telur yang 62dikandung di dalamnya. Sebaran garis tengah telur pada tiap tingkat kematangan gonad akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.

Fekunditas

Fekunditas ikan merupakan aspek yang berhubungan dengan dinamika populasi, sifatsifat rasial, produksi dan persoalan stok rekruitmen (Bagenal, 1978 dalam effendi 1997). Fekunditas merupakan kemampuan reproduksi ikan yang ditunjukkan dengan jumlah telur yang ada dalam ovarium ikan betina. Secara tidak langsung melalui fekunditas ini kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan.

Menurut Nikolsky (1963) jumlah telur yang terdapat dalam ovarium ikan dinamakan fekunditas individu. Dalam hal ini ia memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. selanjutnya ia menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula. Dalam ovari biasanya ada dua macam ukuran telur, yang besar dan yang kecil.

Hubungan fekunditas dengan panjang, berat dan populasi

Ø Fekunditas dengan panjang

Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang dari pada dengan berat, karena panjang penyusutannya relatif kecil sekali tidak seperti berat yang dapat berkurang dengan mudah. Seringkali para peneliti memplotkan fekunditas mutlak dengan panjang ikan dan hubungan itu ialah :

F = a Lb

Dimana F = fekunditas, L = panjang ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari data. Persamaan tersebut kalau ditransformasikan ke logaritma akan mendapatkan persamaan regresi garis lurus :

Log F = log a + b log L

Menurut Bagenal dalam Effendie (1997) harga eksponen b berkisar antara 2,34 – 5,28 dan kebanyakan berkisar di atas 3. Ada juga yang membuat Korelasi antara fekunditas dengan panjang dengan cara regresi biasa kemudian dites dengan melihat koefisien korelasinya. Hoyt (1971) mendapatkan persamaan untuk panjang ikan dengan jumlah telur masak dari ikan sliver jaw (Ericymba bucata) yaitu:

Y = (-1379,3 + 32,74 X) dengan koefisien korelasi r = 0,89

Korelasi ini memperlihatkan hubungan positif dan kuat dari kedua variabel. Pertambahan panjang berkorelasi dengan pertambahan telur. Healy (1971) mendapatkan korelasi hampir linier antara fekunditas dengan panjang ikan sand goby (Gobius minutus pallas), tetapi variasi diantara ikan yang sama panjang,

fekunditasnya berbeda-beda dan koefisien korelasinya rendah yaitu 0,55. dalam menyelidiki ikan fall fish (Semotilus corporalis), Reed (1971) mendapatkan hubungan antara fekunditas dengan panjang ikan ialah :

F = -14.913,3 + 76,7 L dengan koefisien korelasi r = 0,958

Ø Fekunditas dengan berat

Fekunditas mutlak sering dihubungkan dengan berat, karena berat lebih mendekati kondisi ikan itu dari pada panjang. Namun dalam hubungan fekunditas dengan berat terdapat beberapa kesukaran. Berat akan

cepat berubah pada waktu musim pemijahan. Misalnya ikan salmon dan sidat yang melakukan ruaya sebelum berpijah, mereka tidak lagi mengambil makanan, jadi berpuasa sampai ke tempat pemijahan. Jika fekunditas mutlak secara matematis dikorelasikan dengan berat total termasuk berat gonad akan

menimbulkan kesukaran secara statistik. Hal ini disebabkan akan termasukkan telur dalam jumlah yang lebih besar dari ikan yang sebenarnya berfekunditas kecil. Disebabkan oleh kesulitan ini, maka kebanyakan digunakan fekunditas relatif, yaitu berat telur persatuan berat ikan. Namun menggunakan fekunditas relatifpun mendapatkan kesukaran juga, karena tidak dapat dipakai membandingkan satu populasi dengan lainnya atau keadaan dari satu tahun ke tahun lainnya.

Pengunaan penghitungan fekunditas yang dikorelasikan dengan berat yang dituliskan dengan persamaan :

F = a + bW

dalam beberapa hal hasilnya baik, tetapi ternyata bahwa korelasi antara fekunditas dengan berat adalah tidak linier. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa berat gonad pada awal kematangan berbeda dengan berat akhir dari kematangan itu karena perkembangan telur yang dikandungnya. Selama dalam proses perkembangan tersebut terjadi pengendapan kuning telur yang berangsur-angsur serta terjadi hidrasi pada waktu hampir mendekati pemijahan.

BAB III

ALAT DAN BAHAN

3.1              Alat

  1. Cawan petri
  2. Hand counter
  3. Penggaris
  4. Kaca pembesar
  5. Pisau bedah
  6. Pinset

Bahan

  1. Ikan mas (Cyprinus caprio)
  2. Akuades

3.2              Langkah-langkah

  1. Ikann ditimbang terlebih dahulu
  2. Diukur panjang TL dan SL ikan tersebut
  3. Ikan di bedah, pisahkan gonad dan usus ikan ke tempat lain
  4. Timbang berat gonad untuk mendapatkan data IKGnya
  5. Buka usus ikan, untuk melihat makanan apa yang dimakannya.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Perhitungan Relasi panjang berat

Perhitungan relasi panjang dan berat  yaitu :

  1. Mengukur panjang total ikan mas (TL),
  2. Mengukur panjang standar (SL)
  3. Menghitung berat ikan

3.2  Indeks Kematangan Gonad

Indeks kematangan gonad di hitung dengan rumus :

Wg/W x 100%

3.3  Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad dilihat dengan mengacu pada teori Kesteven pada buku biologi perikanan.

3.4  Fekunditas

Fekunditas dapat di hitung berdasarkan :

  • Volume. Dengan rumus :

X : x = V : v

Keterangan : x = Jumlah telur di hitung secara manual

V = Perhitungan volume air stelah dimasukan air

3.5  Food feeding habits

Pengidentifikasian kebiasaan makannya dengan mengidentifikasi isi dari usus ikan, kemudian diamati di bawah mikroskof.

Data hasil praktikum biologi perikanan kelas B :

No Kelompok Seksualitas ikan Relasi Panjang Berat Perkembangan Gonad fekunditas
jantan betina tl sl tkg ikg
1 Anjar Wahyu A 32 29.5 790 bunting 13.9 177,314
Succy Lestari
Aep Ruhiat
2 Dewi Addinilia 22.5 18 240 mijah 4
Nur Zamzam
Aloysius Dimas
3 Dede Ahdiat 15.5 13 80 dara 5
Ramduni Barqah
Melati Annisa
4 Sugianto 23 19.5 185 perk.II 3.4
R.Rocky Savoetra
Febyanti Utami
5 Roy Docklas 17.5 15 150 perk.II 0.82
Arfiani Karuniasari
Reza Hamzah
6 Harry Akhbar D 21 17.5 180 perk.III 1.1
Vannie Elsis
Ranita Tyarawatty
7 Arief Rachman 18.5 16 100 dara 1.09
Nurdin Arif
Richardson Sitohang
8 Arya Bayu 16 13.5 60 perk.II 2.83
Harri Sidiq
9 Yurivalendra 14.6 12 39.5 bunting 7.31
Tegar Alghafany
Sandy Destra
10 Lela Komalasari 22.9 19.8 220 dara brkembng 2.2
M.Rudyansah
Nofi Puji
11 Nurfajri M 14.5 11.5 42 dara 0.01
Aini Andriyani
Taufik Hidayat
12 Galang Satrya 14 13 60 dara 0.91
Zano Maylendo
Rully Johan
13 Bayu Reksono 13.5 11.1 32.5 dara 1.48
Tommy Irawan
Rovi Rizkia
14 Rinaldi Amanta 20 16.5 129 bunting 8
Lucky Rizki
15 Windy Meuraxa 23.5 19.5 210 bunting 7
Wielmarte
Lukman Hakim
16 M.Iqbal 19.5 17.5 14.5 bunting 8.7
Devi Nurkhasanah
Samsuri
17 Raymond Marbun 16 13.6 56 bunting 7.5
Junianto Wibowo
Aji Tirta
18 Hendrawawansah 13.9 11.8 31.5 Perk.I 0.79
Azwan Ruswandi
19 Romauli Siskayani 18 17 156.3 dara brkembng 5
Riyanti Puspa
Setiani
20 Asep Sahidin 18.6 16.8 158.5 bunting 12
Eva Dini Erdiani
21 Ruddy Prawira 15 11 50 dara
Dimas Akhrulla
Irmasari
rata-rata 18.57 15.87 142.14 6.833
Jumlah 15 6 390 333.62 2985.04 bunting = 7 94,575 177,314
mijah = 1
Perk I = 1 4.5
Perk II = 2
Perk III = 1
dara = 5
dara berkmbang = 2

Nilai B

No Kelompok Panjang (cm ) berat (gr) log L log W log (LxW) (log L)^2
tl sl (L)
1 Anjar Wahyu A 32 29.5 790 1.47 2.89 4.36 2.1609
Succy Lestari
Aep Ruhiat
2 Dewi Addinilia 22.5 18 240 1.26 2.38 3.64 1.5876
Nur Zamzam
Aloysius Dimas
3 Dede Ahdiat 15.5 13 80 1.11 1.9 3.01 1.2321
Ramduni Barqah
Melati Annisa
4 Sugianto 23 19.5 185 1.29 2.27 3.56 1.6641
R.Rocky Savoetra
Febyanti Utami
5 Roy Docklas 17.5 15 150 1.18 2.18 3.36 1.3924
Arfiani Karuniasari
Reza Hamzah
6 Harry Akhbar D 21 17.5 180 1.24 2.26 3.5 1.5376
Vannie Elsis
Ranita Tyarawatty
7 Arief Rachman 18.5 16 100 1.2 2 3.2 1.44
Nurdin Arif
Richardson Sitohang
8 Arya Bayu 16 13.5 60 1.13 1.78 2.91 1.2769
Harri Sidiq
9 Yurivalendra 14.6 12 39.5 1.07 1.59 2.66 1.1449
Tegar Alghafany
Sandy Destra
10 Lela Komalasari 22.9 19.8 220 1.29 2.34 3.63 1.6641
M.Rudyansah
Nofi Puji
11 Nurfajri M 14.5 11.5 42 1.06 1.62 2.68 1.1236
Aini Andriyani
Taufik Hidayat
12 Galang Satrya 14 13 60 1.11 1.78 2.89 1.2321
Zano Maylendo
Rully Johan
13 Bayu Reksono 13.5 11.1 32.5 1.05 1.51 2.56 1.1025
Tommy Irawan
Rovi Rizkia
14 Rinaldi Amanta 20 16.5 129 1.22 2.11 3.33 1.4884
Lucky Rizki
15 Windy Meuraxa 23.5 19.5 210 1.29 2.32 3.61 1.6641
Wielmarte
Lukman Hakim
16 M.Iqbal 19.5 17.5 14.5 1.24 1.16 2.4 1.5376
Devi Nurkhasanah
Samsuri
17 Raymond Marbun 16 13.6 56 1.13 1.74 2.87 1.2769
Junianto Wibowo
Aji Tirta
18 Hendrawawansah 13.9 11.8 31.5 1.07 1.49 2.56 1.1449
Azwan Ruswandi
19 Romauli Siskayani 18 17 156.3 1.23 2.19 3.42 1.5129
Riyanti Puspa
Setiani
20 Asep Sahidin 18.6 16.8 158.5 1.23 2.2 3.43 1.5129
Eva Dini Erdiani
21 Ruddy Prawira 15 11 50 1.04 1.69 2.73 1.0816
Dimas Akhrulla
Irmasari
rata-rata 19.444 14.375 170.1333 1.1862 1.9714 3.15761905 1.4180048

Pembahasan :

Dari data diatas, jika dianggap semua ikan mas situ dari satu peraira dapat dapat disimpulkan bahwa:

  1. Perairan tersebut di dominasi oleh ikan mas jantan, dengan jumlah Jantan berjumlah 15 ekor, betina berjumlah 6 ekor. Perbandingannya mensapai 2:1. Untuk jenis spesies seperti ikan mas, itu bagus, karena pada saat betina melakukan pemijahan tidak akan kekurangan sperma.
  2. Persentasi tingkat kematangan gonadnya, ikan-ikan di peraiaran tersebut belum siap untuk mengeluarkan telurnya. Kematanagn gonadnya rata-rata masih tahap perkembangan.
  3. Dilihat dari rata-rata indeks kematangan gonadnya, masih jauh unutk melakukan pemijahan.
  4. Populasi pertumbuhan pada ikan mas di atas tidak sama, mungkin dipengaruhi oleh makanan.
  5. Berdasarkan data hasil penelitian ikan mas diatas, tropik levelnya, ikan tersebut banyak mengkonsumsi jenis fito plangton dan daun-daunan. Ditemukan juga beberapa zooflankton.

Dapat disimpulkan bahwa ikan tersebut termasuk ikan omnivore (pemakan segala).

BAB IV

KESIMPULAN

Tingkat kematangan gonad ikan mas dalam suatu perairan tidak lah sama, tergantung terhadap kondisi ikan dan makan yang terjadi. Besar tubuh dan berat ikan mempengaruhi terhadap perkembangan gonad ikan tersebut.

Pemijahan/ pengeluaran telur pada ikan dapat terjadi pada tahap ikan itu menginjak kematangan gonadnya pada fase Sali. Setelah memasuki fase itu, ikan akan siap mengeluarkan telurnya

Jumlah telur yang dihasilkan, juga dipengaruhi oleh musim. Seperti halnya ikan mas, ikan mas akan banyak mengeluarkan telur pada musim dingin

DAFTAR PUSTAKA

file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Cover%20Buku%20ajar%20(ikhtiologi).htm