Latest Entries »

sementara waktu

buat sementara waktu, artikel ataupun post berisikan segala hal tentang dunia perikanan dan kelautan tidak terpos-kan. karena pemilik blog sedang fokus dalam meraih masa depan. sampai bertemu nanti ya. semoga isi2 dari blog ini bermanfaat. terimakasih :)

MENGINJAK DI TAHUN KE-6

akhirnya setelah menginjakkan kaki dan luntang-lantung di kampus sampai semester 11 ini. saya akhirnya dapat menapaki langkah awal menjadi sarjana perikanan dengan mendapatkan persetujuan dalam draft usulan penelitian saya yang berjudul “STRUKTUR MAKROZOOBENTOS SEBAGAI BIOINDIKATOR PERAIRAN PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU DKI JAKARTA”

buat teman-teman yang tertarik ataupun memiliki info yang sekiranya dapat menambah wawasan saya dalam skripsi ini di persilahkan saran dan masukan serta referensinya. hehe.. makasi yaaa :)

Bioteknologi

 
1. DNA (DeoxyriboNucleic Acid) adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik dan berfungsi untuk mengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan secara seluler. DNA terdapat pada nukleus, mitokondria dan kloroplas dan bila dilihat berbentuk double helix, Merupakan komponen utama pada kromosom dan berisi tentang informasi genetic dari suatu makhluk hidup.
       RNA merupakan polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus gula ribosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N). Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus gula ribosa dari nukleotida yang lain.

2. genom adalah keseluruhan bahan genetik yang membawa semua informasi pendukung kehidupan pada suatu makhluk hidup, baik yang merupakan gen atau bukan. Pada semua makhluk hidup, genom mencakup semua informasi genetik yang dibawa DNA, baik di inti sel (nukleus), mitokondria, maupun plastida. 
Sedangkan gen adalah bahan genetik yang terkait dengan sifat tertentu.
 Perbedaanya adalah kalau gen hanya berisi satu sifat tertentu saja, contohnya gen yang berisi tentang warna kulit. Sedangkan genom berisi seluruh informasi/sifat tentang makhluk hidup tersebut.

3. sifat-sifat dasar DNA antara lain dapat melakukan replikasi, transkripsi dan translasi. peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel.
Sifat-sifat dasar RNA adalah menjadi perantara antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein.

4. DNA adalah adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. 
Sedangkan RNA adalah senyawa yang merupakan bahan genetik dan memainkan peran utama dalam ekspresi genetic. RNA menjadi perantara antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein.
 Protein adalah dalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptide.
Perbedaannya adalah dalam peranan masing dari komponen-komponen ini 
yaitu protein akan diolah oleh tubuh menjadi molekul yang lebih sederhana yaitu asam amino yang merupakan komponen penyusun DNA dan RNA. Sedangkan RNA diperlukan sebagai bahan untuk enkripsi DNA. 
Secara struktur RNA juga berbeda karena tidak berupa pilin ganda sebagaimana DNA, tetapi bervariasi sesuai dengan tipe dan fungsinya
RNA dibagi menjadi tiga macam yaitu messenger-RNA (mRNA), ribosomal-RNA (rRNA), transfer-RNA (tRNA), sedangkan DNA tidak ada.

5. pewarisan sifat ditentukan melalui DNA, RNA(pada virus) tapi bila lebih spesifik lagi, maka pewarisan sifat ditentukan oleh gen.

6.fenotipe adalah sifat yang akan diwariskan oleh induk dan dapat dilihat. Misalnya warna kulit.
Genotype adalah sifat yang akan diwariskan oleh induk akan tetapi tidak tampak(gen). umumnya berbentuk symbol, misalnya symbol AA atau Aa. Tip symbol memiliki arti tersendiri 

 7.replikasi DNA adalah proses penggandaan molekul DNA untai ganda. Pada setiap sel, kecuali sel gamet, pembelahan diri harus disertai dengan replikasi DNA supaya semua sel turunan memiliki informasi genetik yang sama. Proses replikasi DNA. Mula-mula, heliks ganda DNA (merah) dibuka menjadi dua untai tunggal oleh enzim helikase dengan bantuan topoisomerase yang mengurangi tegangan untai DNA. Untaian DNA tunggal dilekati oleh protein-protein pengikat untaian tunggal untuk mencegahnya membentuk heliks ganda kembali. Primase membentuk oligonukleotida RNA yang disebut primer dan molekul DNA polimerase melekat pada seuntai tunggal DNA dan bergerak sepanjang untai tersebut memperpanjang primer, membentuk untaian tunggal DNA baru yang disebut leading strand dan lagging strand. 
DNA polimerase yang membentuk lagging strand harus mensintesis segmen-segmen polinukleotida diskontinu (disebut fragmen Okazaki). Enzim DNA ligase kemudian menyambungkan potongan-potongan lagging strand tersebut

 Transkripsi DNA merupakan proses pembentukan RNA dari DNA sebagai cetakan.  Proses transkripsi menghasilkan mRNA, rRNA dan tRNA.   Pembentukan RNA dilakukan oleh enzim RNA polymerase. Proses transkripsi adalah Proses transkripsi diawali oleh mobilisasi sejumlah protein, beberapa di antaranya enzim.
. Selanjutnya, protein-protein non-enzim, disebut faktor transkripsi, menempati posisi-posisi DNA tertentu (karena memiliki "tanda pengenal") yang pada gilirannya membuat DNA siap melakukan transkripsi. Bagian ini dikenal sebagai TATA-box, terletak sekitar 10-25 pasangan basa di bagian hulu (upstream) dari kodon mulai (AUG). Adanya faktor transkripsi ini akan menarik enzim RNA polimerase mendekat ke DNA dan kemudian menempatkan diri pada tempat yang sesuai dengan kodon mulai (TAC pada berkas DNA). Berkas DNA yang ditempel oleh RNA polimerase disebut sebagai berkas templat, sementara berkas pasangannya disebut sebagai berkas kode (karena memiliki urutan basa yang sama dengan RNA yang dibuat). Sejumlah ATP diperlukan untuk membuat RNA polimerase mulai bergerak dari ujung 3' (ujung karboksil) berkas templat ke arah ujung 5' (ujung amino). RNA yang terbentuk dengan demikian berarah 5' → 3'. Pergerakan RNA polimerase akan berhenti apabila ia menemui urutan basa yang sesuai dengan kodon berhenti. Setelah proses selesai, RNA polimerase akan lepas dari DNA.
Tergantung intensitasnya, dalam satu berkas transcription unit sejumlah RNA polimerase dapat bekerja secara simultan. Intensitas transkripsi ditentukan oleh keadaan di sejumlah bagian tertentu pada DNA. Ada bagian yang disebut suppressor yang menekan intensitas, dan ada yang disebut enhancer yang memperkuatnya.

Translasi merupakan proses penerjemahan kodon-kodon pada mRNA menjadi polipeptida. Proses translasi terjadi  pada eukariota setelah transkripsi dapat terjadi proses pascatranskripsi, seperti splicing dan penambahan poli-A. Setelah "matang", mRNA berpindah tempat menuju sitoplasma dan akan ditangkap oleh rRNA untuk dibaca dan diterjemahkan.
DEFINISI-DEFINISI PENYULUHAN

Definisi Penyuluhan Secara Umum 
Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu social yang mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Setiana. L. 2005). Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa. Dalam bukunya A.W. van den Ban dkk. (1999) dituliskan bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. 

Definisi Penyuluhan Berdasarkan  Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian , Perikanan dan Kehutanan ( SP3K)
Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dalam mengakses informasi informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Definisi Penyuluhan menurut Ibrahim, et.al, 2003:1-2
Penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang berarti “obor” atau “pelita” atau “yang memberi terang”. Dengan penyuluhan diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pengetahuan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu menjadi lebih tahu. Keterampilan dikatakan meningkat bila terjadi perubahan dari yang tidak mampu menjadi mampu melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat. Sikap dikatakan meningkat, bila terjadi perubahandari yang tidak mau menjadi mau memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan. (Source: Ibrahim, et.al, 2003:1-2).

Penyuluhan Sebagai Proses Perubahan Perilaku
Penyuluhan adalah proses perubahan perilaku di kalangan masyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu melakukan perubahan demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan/keuntungan dan perbaikan kesejahteraanya. Dalam perkembangannya, pengertian tentang penyuluhan tidak sekadar diartikan sebagai kegiatan penerangan, yang bersifat searah (one way) dan pasif. Tetapi, penyuluhan adalah proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan “perilaku” (behaviour) yang merupakan perwujudan dari: pengetahuan, sikap, dan ketrampilan seseorang yang dapat diamati oleh orang/pihak lain, baik secara langsung (berupa: ucapan, tindakan, bahasa-tubuh, dll) maupun tidak langsung (melalui kinerja dan atau hasil kerjanya). 
Dengan kata lain, kegiatan penyuluhan tidak berhenti pada “penyebar-luasan informasi/inovasi”, dan “memberikan penerangan”, tetapi merupakan proses yang dilakukan secara terus-menerus, sekuat-tenaga dan pikiran, memakan waktu dan melelahkan, sampai terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) yang menjadi “klien” penyuluhan”.

Penyuluhan Sebagai Proses Belajar/Proses Belajar
Penyuluhan sebagai proses pendidikan atau proses belajar diartikan bahwa, kegiatan penyebar-luasan informasi dan penjelasan yang diberikan dapat merangsang terjadinya proses perubahan perilaku yang dilakukan melalui proses pendidikan atau kegiatan belajar. Artinya, perubahan perilaku yang terjadi/dilakukan oleh sasaran tersebut berlangsung melalui proses belajar. Hal ini penting untuk dipahami, karena perubahan perilaku dapat dilakukan melalui beragam cara, seperti: pembujukan, pemberian insentif/hadiah, atau bahkan melalui kegiatan-kegiatan pemaksaan (baik melalui penciptaan kondisi ling-kungan fisik maupun social-ekonomi, maupun pemaksaan melalui aturan dan ancaman-ancaman).
Berbeda dengan perubahan perilaku yang dilakukan bukan melalui pendidikan, perubahan perilaku melalui proses belajar biasanya berlangsung lebih lambat, tetapi perubah-annya relatif lebih kekal. Perubahan seperti itu, baru akan meluntur kembali, manakala ada pengganti atau sesuatu yang dapat menggantikannya, yang memiliki keunggulan-keung-gulan “baru” yang diyakininya memiliki manfaat lebih, baik secara ekonomi maupun non-ekonomi. Lain halnya dengan perubahan perilaku yang terjadi karena bujukan/hadiah atau pemaksaan, perubahan tersebut biasanya dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat, tetapi lebih cepat pula meluntur, yaitu jika bujukan/hadiah/pemaksaan tersebut dihentikan, berhenti atau tidak mampu lagi melanggengkan kegiatannya

Penyuluhan Sebagai Proses Perubahan Sosial
SDC (1995) menyatakan bahwa, penyuluhan tidak sekadar merupa-kan proses perubahan perilaku pada diri seseorang, tetapi merupakan proses perubahan sosial, yang mencakup banyak aspek, termasuk politik dan ekonomi yang dalam jangka panjang secara bertahap mampu diandalkan menciptakan pilihan-pilihan baru untuk memper-baiki kehidupan masyarakatnya.
Yang dimaksud dengan perubahan sosial di sini adalah, tidak saja perubahan (perilaku) yang berlangsung pada diri seseorang, tetapi juga perubahan-perubahan hubungan antar individu dalam masyara-kat, termasuk struktur, nilai-nilai, dan pranata sosialnya, seperti: demokratisasi, transparansi, supremasi hukum, dll.

Penyuluhan Sebagai Proses Rekayasa Sosial (Social Engineering)
Sejalan dengan pemahaman tentang penyuluhan sebagai proses perubahan sosial yang dikemukakan di atas, penyuluhan juga sering disebut sebagai proses rekayasa sosial (social engineering) atau segala upaya yang dilakukan untuk menyiapkan sumberdaya manusia agar mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam sistem sosialnya masing-masing. 
Karena kegiatan rekayasa-sosial dilakukan oleh ”pihak luar”, maka relayasa sosial bertujuan untuk terwujudnya proses perubahan sosial demi terciptanya kondisi sosial yang diinginkan oleh pihak-luar (perekayasa). Pemahaman seperti itu tidak salah, tetapi tidak dapat sepenuhnya dapat diterima. Sebab, rekayasa-sosial yang pada dasar-nya dimak-sudkan untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan kelompok-sasarannya, seringkali dapat berakibat negatip, manakala hanya mengacu kepada kepentingan perekayasa, sementara masyara-kat dijadikan korban pemenuhan kehendak perekayasa.

Penyuluhan Sebagai Proses Pemasaran Sosial (Social Marketing)
Yang dimaksud dengan “pemasaran sosial” adalah penerapan konsep dan atau teori-teori pemasaran dalam proses perubahan sosial. Berbeda dengan rekayasa-sosial yang lebih berkonotasi untuk “membentuk” (to do to) atau menjadikan masyarakat menjadi sesuatu yang “baru” sesuai yang dikehendaki oleh perekayasa, proses pemasaran sosial dimaksudkan untuk “menawarkan” (to do for) sesuatu kepada masyarakat. Jika dalam rekayasa-sosial proses pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan perekayasa, pengambilan keputusandalam pemasaran-sosial sepenuhnya berada di tangan masyarakat itu sendiri.

Penyuluhan Sebagai Proses Pemberdayaan Masyarakat (Community Empowerment)
Margono Slamet (2000) menegaskan bahwa inti dari kegiatan penyu-luhan adalah untuk memberdayakan masyarakat. Memberdayakan berarti memberi daya kepada yang tidak berdaya dan atau mengem-bangkan daya yang sudah dimiliki menjadi sesuatu yang lebih ber-manfaat bagi masyarakat yang bersangkutan. Dalam konsep pember-dayaan tersebut, terkandung pema-haman bahwa pemberdayaan tersebut diarahkan terwujudnya masyarakat madani (yang beradab) dan mandiri dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri.


Penyuluhan Sebagai Proses Penguatan Kapasitas (Capacity Strenghtening)
Yang dimaksud dengan penguatan kapasitas di sini, adalah penguatan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu (dalam masyarakat), kelembagaan, maupun hubungan atau jejaring antar individu, kelom-pok organisasi sosial, serta pihak lain di luar sistem masyarakatnya sampai di aras global. Kemampuan atau kapasitas masyarakat, diarti-kan sebagai daya atau kekuatan yang dimiliki oleh setiap indiividu dan masyarakatnya untuk memobilisasi dan memanfaatkan sumber-daya yang dimiliki secara lebih berhasil-guna (efektif) dan berdaya-guna (efisien) secara berkelanjutan. 
Dalam hubungan ini, kekuatan atau daya yang dimiliki setiap individu dan masyarakat bukan dalam arti pasif tetapi bersifat aktif yaitu terus menerus dikembangkan/dikuatkan untuk “memproduksi” atau meng-hasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Penyuluhan Sebagai Proses Komunikasi Pembangunan
Sebagai proses komunikasi pembangunan, penyuluh-an tidak sekadar upaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah, untuk menumbuh-kembangkan partisi-pasi masyarakat dalam pembangunan (Mardikanto, 1987).

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Penangkapan Ikan

Penangkapan ikan menurut sejarah sekitar 100.000 tahun yang lalu telah dilakukan oleh manusia Neanderthal, dengan menggunakan tangan yang kemudian berkembang terus menerus secara perlahan dengan menggunakan alat bantuan  berupa batu, kayu, tulang, dan tanduk.

Seiring dengan perkembangan budaya, manusia memulai teknologi dengan perahu sederhana berupa sampan. Begitu pula ketika ditemukan mesin uap pada tahun 1769 oleh James Watt, kapal-kapal uap sangat berpengaruh dalam menarik alat tangkap berupa jaring yang di seret ke daratan dengan membawa ikan.

Kini di abad moderen perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang pesat membuat penangkapan ikan menjadi lebih mudah, berbagai negara melakukan moderenisasi penangkapan. Dan jepang merupakan negara asia yang sangat maju dalam hal teknologi, alat komunikasi dan penanganan hasil penangkapan telah dilakukan dengan sangat baik.

1.2 Perkembangan Teknik Penangkapan Ikan

Dalam beberapa hal perkembangan metode penangkapan sangatlah lambat, sebagai contoh dari dulu hingga saat ini alat pancing penggunaannya tidak berbeda jauh mata kail diberi umpan dan ikan ditarik penuju pancingan, namun bukan berarti tidak ada perubahan karena semakin teknologi berkembang dan kebutuhan manusia pun bertambah.

Kita kini mengenal Longe Line salah satu alat tangkap yang menggunakan mata kail yang sangat banyak sehingga hasil yang di dapat lebih besar. Begitu pun dengan Fishing Ground yang memiliki jarak yang lebih jauh dari pantai. Adapun perubahan tenaga manusi yang perannya digantikan oleh mesin dan alat untuk lebih memudahkan dan mengefektifkan waktu yang ada.

1.3 Penangkapan Ikan di Indonesia

Alat tangkap dan teknik penangkapan ikan di Indonesia pada umumnya nelayan masih bersifat tradisional. Dilihat dari perinsip penagkapan ikan di Indonesia para nelayan lebih memanfaatkan sifat-sifat yang dimiliki ikan.

Misanya pada perairan di Sulawesi Selatan nelayan lebih banyak menggunakan Sero, yaitu alat penangkap ikan dengan teknik menghadang ikan dan menggiring ke arah tertentu sehingga ikan terjebak dan tak bisa kembali ke perairan luas.

BAB II

PEMBAHASAN TRAP

2.1 Pengertian Umum

Trap (perangkap) adalah alat penangkap ikan yang dipasang seara tetap di perairan dalam jangka waktu tertentu tang memudahkan ikan masuk namun menyulitkan ikan untuk keluar, Alat ini biasanya dibuat dari bahan alami,seperti bambu kayu, atau bahan buatan lainnya seperti jaring dengan ataupun tanpa umpan.

2.2 Jenis dan Dekripsi Trap

Ada beberapa jenis alat penangkap ang termasuk trap. Ada yang dioperasikan di permukaan air seperti bubu hanyut untujk menangkap ikan terbang,tetapi kebanyakan dioperasikan di dasar perairanuntuk menangkap ikan demersal. Beberapa jenis alat penangkap yang termasuk trap yaitu : Bubu, Sero, Jermal, Ambai, Set Net, Perangkap Ikan Peloncat.

Jenis Trap

2.3 Bubu

Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “ guiding barriers “.

Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :

©    Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan.

©    Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan.

©    Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan.

Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang lain seperti :

Bubu Jermal: Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang surut (tidal trap).

Bubu Ambai: Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut ukuran kecil.

Bubu Apolo: Hampir sama dengan bubu ambai, bedanya ia mempunyai 2 kantong, khususmenangkap udang rebon.

2.3.1 Bubu Dasar

DESKRIPSI

Alat ini terbuat dari anyaman bambu,anyaman rotan, anyaman kawat. Bentuknya bermacam-macam, ada yang seperti selinder, setengah lingkaran,empat persegi panjang, segitiga memanjang, dan sebagainya.dalam pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa uampan.

JENIS

Merupakan alat tangkap ikan pasif dengan jenis yang beragam, berbentuk anyaman dengan bentuk bubu yang bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo`s splitting or-screen).Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung.Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar.

CARA PENGOPERASIAN

Sebelum alat penangkap dimasukan kedalam perairan maka terlebih dahulu menentukan daerah penangkapan.penentuan daerah penangapan tersebut didasarkan pada tempat yang diperkirakan banyak ikan demersal ,yang biasanya ditandai dengan banyaknya terumbu karang atau pengalaman dari nelayan.

Dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu berukuran besar), bisa ganda (umumnya bubu berukuran kecil atau sedang) yang dalam pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan bubu tersebut. Bubu dipasang di daerah perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan. Bubu dilengkapi dengan pelampung yang dihubungkan dengan tali panjang. Setelah bubu diletakkan di daerah operasi, bubu ditinggalkan.

Bagi bubu yang tidak manggunakan umpan, setelah tiba di daerah penangkapan,maka dilakukan penurunan pelampung tand dilanjutkan penurunan bubu beserta pemberatnya,sedangkan bubu yang menggunakan umpan (biasanya dari ikan) terlebih dahulu dimasukan umpan alu di masukan kedalam perairan.setelah dianggapposisinya sudah baik maka pemasangan bubu dianggap selesai., untuk kemudian diambil 2-3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari.

DAERAH PENANGKAPAN

Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.

MUSIM

Tidak ada musim khusus untuk Bubu Dasar.

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.

BUBU DASAR

2.3.2 Bubu Hanyut

DESKRIPSI

Alat ini terbuat dari anyaman bambu,anyaman rotan, anyaman kawat. Pada prinsipnya alat penangkap ini sama dengan bubu dasar.hanya alat ini dikhususkan untuk menangkap ikan terbang(flying fish)pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa uampan.

JENIS

Merupakan alat tangkap ikan pasif yang di hanyutkan di perairan dengan pintu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar. Sedikit berbeda dengan Bubu Dasar karena tidak menggunakan pemberat.

CARA PENGOPERASIAN

Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya menjadi banyak, antara 20-30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang akan digunakan dalam penangkapan.

Operasi penangkapan dilakukan sebagai berikut :

Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.

Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).

Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur sampai + antara 60-150 m, atau dapat juga dengan cara :

Pada fishing ground yang dianggap banyak terdapat ikan terbang.alat penangkap ini di rangkai sedemikian rupa, sehingga dalam satu rangkaian terdiri dari 4-6 rangkaian bubu.kemudian bubu tersebut diturunkan keperairan. Bubu tersebut tidak diberi pemberat sehingga alta penangkap tersebut terapung di permukaan air.pada saat operasi penangkapan ikan dilakukan,alat penangkap ini diikatkan pada perahu,dengan demikian ia akan ikut hanyut bersama perahu sesuai dengan arah arus.

DAERAH PENANGKAPAN

Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.

MUSIM

Alat ini dioperasikan pada musim timur yaitu musim pemijahan dari ikan terbang dilaut flores, sehingga dapat dikatakan alat penangkap ini hnaya dioperasikan hanya pada musim-musim tertentu.

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish).

2.3.3 Bubu Kepiting

DESKRIPSI

Alat ini umumnya terbuat dari anyaman kawat. Merupakan alat tangkap ikan pasif  termasuk kedalam bubu dasar namun hanya menjebak kepiting, rajungan dan lobster.

JENIS

Bentuknya ada yang selinder dan persegi, dan sebagainya.dalam pengoperasian dapat memakai umpan atau tanpa uampan.

CARA PENGOPERASIAN

Sebelum alat penangkap dimasukan kedalam perairan maka terlebih dahulu menentukan daerah penangkapan.penentuan daerah penangapan tersebut didasarkan pada tempat yang diperkirakan banyak kepiting.

Dalam operasional penangkapannya bubu dijatuhkan kedasar permukaan air dan ditinggal dalam jangka waktu tertentu. Ketika sudah dirasa cukup maka bubu diangkat kepermukaan air (biasanya dala jangka 2-3 hari).

DAERAH PENANGKAPAN

Dalam operasi penangkapan, bubu kepiting hampir sama dengan bubu dasar.

MUSIM

Tidak ada musim khusus untuk Bubu Dasar.

HASIL TANGKAPAN

Kepiting, rajungan, dan lobster

2.3.4 Bubu Bambu

DESKRIPSI

Sesuai dengan namanya bubu ini terbuat dari bamboo dengan kegunaan seperti layaknya bubu.

CARA PENGOPERASIAN

Pemasangan bubu ini di perairan, bisa dipasang satu demi satu kemudian di untai atau dipasang dua atau tiga bubu dalam satu ikatan kemudian di pasang dengan cara diuntai dengan jarak satu dan lainnya 5-6 m.

DAERAH PENANGKAPAN

Perairan pantai yang dasar perairannya berlumpur, berlumpur bercampur pasir atau perairan yang banyak dihuni oleh ikan yang akan dijadikan target tangkapan.

MUSIM

Disesuaikan dengan musim ikan yang akan dijadikan target tangkapan di daerah masing-masing.

HASIL PENANGKAPAN

Ikan lindung

2.3.5 Bubu Wadong

DESKRIPSI

Alat ini sifatnya pasif, dipasang menetap di tempat yang diperkirakan akan dilewati oleh kepiting. Keseluruhan dari alat ini terbuat dari bahan bambu termasuk alat pemanngcang dan alat penusuk umpan.

CARA PENGOPERASIAN

Pemasangan wadong di daerah penangkapan dipasang secara tunggal atau satu persatu terpisah dari yang lainnya. Dalam satu kali operasi bisa dipasang sebanyak 10-20 buah wadong. Pemasangan wadong biasanya di sore hari pada waktu air surut d di angkat saat pagi hari selagi air surut. Semua kegiatan dilakukan secara manual baik dengan sampan maupun tanpa sampan.

DAERAH PENANGKAPAN

Daerah penangkapan yang umum dijadikan tempat untuk meletakan wadong adalah di sekitar akar-akar pohong mangrove atau di tempat yang diperkirakan akan dilalui kepiting. Kedalaman antara 40-50 cm pada waktu surut.

MUSIM

Musim penangkapan  umumnya dilakukan sepanjang tahun.

HASIL PENANGKAPAN

Kepiting Bakau

2.3.6 Bubu Gurita

DESKRIPSI

Penangkapan gurita umumnya dilakukan di Indonesia biasanya hanya dilakukan dengan cara menggunakan tobak dimana cara penombakannya dilakukan dengan cara sambil menyelam. Alat tangkap yang secara khusus digunakan untuk menangkap gurita dikatakan masih belum ada. Bubu ini bisa terbuat dari keramik ataupun cangkang kerang jenis Scaphara subcrenata, Rapana thomasiana, dengan ukuran panjangnya antara 15-20 cm atau jenis cangkang kerang lain dengan ukuran yang hamper sama. Biasanya bubu gurita dioperasikan di Jepang.

CARA PENGOPERASIAN

Metode pengoperasian dari bubu gurita pada prinsipnya hampir sama dengan metode pengoperasian bubu lainnya hanya saja dalam pengoperasian bubu gurita tidak menggunakan umpan. Lama perendaman tergantung nelayan yang mengoperasikan sesuai dengan penalaman, tapi pada umumnya antara 2-3 hari. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari.

Pemasangan bubu di daerah penangkapan dipasang atau satu demi satu kemudian diuntai dengan jarak satu sama lainnya 6-10 m. Dalam satu set bubu biasanya antara 20-30 bubu atau dari kapasitas perahu, bubu yang tersedia dan kemampuan nelayan mengoperasikannya.

DAERAH PENANGKAPAN

Daerah penangkapan adalah daerah penangkapan yang mempunyai dasar perairan lumpur berpasir, berarus kecil dengan kedalaman antara 5-40 m. Daerah penangkapan yang berarus cepat tidak cocok untuk pengoperasian bubu gurita.

MUSIM

Musim penangkapan disesuaikan dengan musim keberadaan gurita di daerah penangkapan masing-masing. Musim memijah akan lebih mudah untuk memasuki bubu, tetapi musim setelah memijah lebih akan susah untuk memasuki bubu.

HASIL PENANGKAPAN

Gurita jenis Ocellated octopus – Octopus ocelatus, Octopus vulgaris dan jenis lainnya.

2.4 Sero

DESKRIPSI

Alat penangkapan ikan yang dipasang secara tetap di dalam air, yang biasanya terdiri dari susunan pagar-pagar yang akan menuntun ikan menuju perangkap. Alat  ini biasanya terbuat dari kayu, waring, atau bambu. Terdiri dari bagian-bagian yaitu : (a) penanju ( leading net) yang berfungsi untuk menghadang ikan dalam renang ruayanya khususnya ikan-ikan yang beruaya pada saat pasang naik; (b) daerah bunuhan, biasanya terletak pada bagian yang lebih dalam.

CARA PENGOPERASIAN

Dalam operasi penangkapannya sangat sederhana karena setelah alat penangkap ini dipasang diperairan diharapkan ikan-ikan yang melewati penanju dari alat tangkap ini akan masuk kedaerah bunuhan. Pada saat air surut pengmbilan ikan didaerah bunuhan segera dilakukan. Dieropa barat seperti perancis dan italia alat tangkap sejenis sero yang terbuat dari benang multifilamen disebut fyke net.

DAERAH PENANGKAPAN

Pemasangan alat tangkap ini hanya bisa dilakukan pada daerah-daerah yang landai sedikit miring. Nelayan banyak memasangnya pada daerah-daerah pinggir pantai.

MUSIM

Alat tangkap sero ini tidak memiliki musim khusus, karena lebih bergantung ke pasang-surut.

HASIL TANGKAPAN

Ikan sidat

2.5 Jermal

DESKRIPSI

Jermal adalah perangkap pasang surut (tidal trap) yang merupakan ciri khas alat penangkapan yang terdapat di perairan Sumatera bagian Utara. Pada prinsipnya,jermal ini terdiri dari jajaran tiang-tiang pancang yang merupakan sayap, jaring jermal dan rumah jermal. Jajaran tiang pancang terbuat dari pohon nibung (Oncosperma spp), kayu pohon bakau (Rizhopora spp), kayu tengar (Ceriop spp) berukuran panjang antara 12–15cm, garis tengah 10-20cm. Jaring jermal terdiri dari tiga bagian : mulut, badan, dan kantong. Jaring jermal ini bentuknya bisa menyerupai tikar (jermal biasa), berbentuk kantong (bubu jermal atau jaring kantong jermal), berbentuk gabungan antara tikar dan kantong (kilung bagan, ambai jermal), rumah jermal, merupakan plataran (platform) tempat kegiatan perikanan jermal dilakukan. Jarak pemasangan jermal biasanya sekitar antara 3-6mil dari pantai. Untuk pengoperasional jermal tidak diperlukan perahu atau kapal. Perahu atau kapal hanya digunakan sebagai alat transportasi, untuk mengambil hasil tangkapan.

CARA PENGOPERASIAN

Cara pengoperasian penangkapan ikan yang dilakukan dengan jermal adalah dengan menekan galah yang terdapat pada kanan atau kiri mulut jaring ke bawah sampai di dasar sehingga mulut kantong jaring terbuka secara sempurna. Kemudian tunggu antara 20-30 menit sementara menunggu diangkat. Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dengan menutup mulut jaring dengan cara mengangkat bibir bawah ke atas sehingga menyatu dengan bibir atas, kemudian diikuti mengangkat bagian-bagian tengah kantong melalui katrol-katrol. Pengambilan hasil dilakukan dengan membuka ikatan tali pada ujung belakang kantong.

DAERAH PENANGKAPAN

Depth dari fishsing ground harus diperhitungkan dengan menggunakan bambu atau kayu. Sebagai pancang jaring akan lebih stabil berada di tempat juga bentuk jaring dalam air akan lebih dapat dikontrol karena jika kedalaman terlalu dalam maka penggunaan bambu atau kayu sebagai pancang akan mengalami kesukaran dan kita haruslah menggunakan jangkar.

Arus pada daerah fishing ground haruslah sekecil mungkin ataupun tidak ada sama sekali. Akibat dari arus, jaring akan mengalami perubahan bentuk, menghalang-halangi ikan yang akan memasuki jaring, juga kita akan mengalami kesukaran pada waktu pengangkatan jaring (operasi). Pada tempat yang berarus kuat, jaring akan lekas rusak.

Fishing ground haruslah terlindungi dari angin yang kuat, karena akibat hembusan angin akan menimbulkan gelombang. Hal ini akan mempersukar kerja operasi.

MUSIM

Saat pasang-surut terjadi, karena memanfaatkan ikan yang mengikuti arus (biasanya arus pasang surut).

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan dari pengoperasian alat tangkap jermal tersebut, terutama jenis-jenis sumberdaya perikanan pantai. Di antaranya yaitu biang-biang (Setipinna spp), bulu ayam (Engraulis spp), kasihmadu (Kurtus indicus), nomei (Harpodon spp), gulamah (Scinea spp), puput, matabello (Pellona spp), bawal putih (Pampus argentus), tenggiri (Sconberomorus spp), mayung (Arius spp), jenis-jenis udang, golok-golok (Chirosenrus spp), kakap (Lates calcarifer), senangin (Polynemus spp) selanget (Dorosoma spp), beloso (Sourida spp), pari (Rays), dan lain-lain

2.7 Set Net

DESKRIPSI

Jika dilihat dari  segi prinsip penangkapan, maka set net sebenarnya hamper sama dengan sero. Namun, set net sudah lebih maju, jaringnya sendiri merupakan bangunan dalam air. Alat tangkap jenis ini berkembang baik di Jepang.

JENIS

Jenis alat tangkap ini yang lebih banyak dibedakan karena ukurannya. Yang berukuran sedang biasanya disebut dengan “hisago-ami’, yang berukuran besar biasa disebut dengan “otoshi-ami”, juga ada yang ukuran lebih besar tetapi lebih lengkap biasa disebut dengan “masu-ami”.

CARA PENGOPERASIAN

Cara pengoprasian set net seperti halnya alat tangkap sero dimana memanfaatkan ikan-ikan yang senang bermigrasi ke daerah pantai dan set net tersebut di pasang di daerah yang dilalui oleh ikan. Sehingga jalan yang dilalui ikan ini dihadang oleh lead net, akibatnya ikan akan masuk ke jaring.

Prinsip penangkapannya adalah mengusahakan gerombolan ikan untuk memasuki jaring, setelah di hadang dan diajak dengan lead net adalah apabila gerombolan ikan menjumpainya maka ikan-ikan tidak akan merubah ruayanya kearah lain tetapi akan sejajar dengan arah lead net yang mengarah ke mulut jarring. Dengan demikian, lead net bukan saja berfungsi sebagai penghadang tetapi juga mmengajak ikan ke arah jaring.

DAERAH PENANGKAPAN

Pemasangan alat tangkap ini dilakukan pada daerah-daerah yang landai sedikit miring, pada daerah-daerah pinggir pantai. Karena memanfaatkan ikan yang bermigrasi ke pantai.

MUSIM

Saat pasang-surut.

HASIL TANGKAPAN

Jenis-jenis ikan seperti ekor kuning, kembung, sardine, salmon, cakalang, dan lain-lain.

2.8 Penangkap Ikan Peloncat

Ikan peloncat seperti belanak dan ikan melayang seperti ikan terbang dapat ditangkap di permukaan air di dalam kotak, rakit, perahu, jarring (veranda nets). Kadang-kadang ikan dikejutkan agar melompat keluar air.

DAFTAR PUSTAKA

©  http://fiqrin.wordpress.com/

©  Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut di Indonesia.Nomor 50 Th. 1988/1989.

©  Edisi khusus. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut.

©  Ayodhyoa, A.u. M.Sc. 1974. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Jakarta.

©  Fridan, A.L. 1988. Perhitungan Dalam Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.

©  Mihata, T. 1990. Cataloque of Small Scale Fishing Gear. FAO. USA

©  Subani, Waluyo, Drs.1989. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.

©  Sudirman. Ir. M.Pi.dan Mallawa, Achmar. Prof. Dr. Ir. DEA. 2004. TeknikPenangkapan Ikan. PT RINEKA CIPTA. Jakarta

©  Martasuganda Sulaeman, 2003. Bubu (traps). Departemen PSP, edisi perdana, IPB. Bogor

©  Nedelec, 2000. Definisi dan Klafikasi Alat Tangkap Ikan. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Jaring insang adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring empat persegi panjang, yang mempunyai ukuran mata jaring merata. Dinamakan jaring insang karena berdasarkar cara tertangkapnya, ikan terjerat di bagian insangnya pada mata jaring. Ukuran ikan yang tertangkap relatif seragam. Gill net sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, dan lain sebagainya. Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring.

Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya. Tertangkapnya ikan ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.

Gill net sering digunakn nelayan untuk menangkap ikan, biasanya gill net diperuntukan untuk menangkap ikan permukaan, ikan pertengahan, dan ikan dasar perairan.

  1. B. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini selain mengerjakan tugas mata kuliah Metode Penangkapan Ikan, yaitu untuk mengetahui lebih lanjut dan memahami alat tang kap gill net. Seperti mengetahui jenis-jenisnya, konstruksi dari alat tangkap tersebut, cara pengoprasian, dan ikan yang dapat ditangkap oleh alat tangkap gill net.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Definisi Gill Net

Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya. Tertangkapnya ikan-ikan dengan gill net ialah ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.

Jaring insang (gill net)  adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring empat persegi panjang, yang mempunyai ukuran mata jaring merata. Dinamakan jaring insang karena berdasarkar cara tertangkapnya, ikan terjerat di bagian insangnya pada mata jaring. Ukuran ikan yang tertangkap relatif seragam. Gill net sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, dan lain sebagainya. Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring. Lembaran jaring dilengkapi dengan sejumlah pelampung pada tali ris atas dan sejumlah pemberat pada tali ris bawah. Ada beberapa gill net yang mempunyai penguat bawah (srampat/selvedge) terbuat dari saran sebagai pengganti pemberat. Tinggi jaring insang permukaan 5-15 meter & bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium terbalik, tinggi jaring insang pertengahan 5-10 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang serta tinggi jaring insang dasar 1-3 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium. Bentuk gill net tergantung dari panjang tali ris atas dan bawah.

  1. B. Jenis Alat

Berdasarkan cara operasinya ataupun kedudukan jaring pada perairan maka Ayodhyoa, (1981) dan Nomura, (1978) membedakan antara:

1).           Surface Gill Net

Pada salah satu ujung jaring ataupun pada kedua ujungnya diikatkan tali jaring, sehingga letak (posisi) jaring menjadi tertentu oleh jarak jangkar. Beberapa piece digabungkan menjadi satu, dan jumlah piece harus sesuai dengan keadaan fishing ground.

Float lini (tali pelampung, tali ris atas) akan berada dipermukaan air (sea surface). Dengan demikian, arah rentangan dengan arah arus, angin dan sebagainya akan terlihat.

Dari segi lain, gerakan turun naik dari gelombang akan menyebabkan pula gerakan turun naik dari pelampung, kemudian gerakan ini akan ditularakan ke tubuh jaring. Jika irama gerakan ini tidak seimbang, juga tension yang disebabkan pada float line terlalu besar, ditambahkan oleh penagruh-pengaruh lainnya, kemungkinan akan terjadi peristiwa the rolling up of gill net yaitu peristiwa dimana tubuh  jaring tidak lagi terlentang lebar, tetapi menjadi membulat. Dengan demikian, jaring tidak berfungsi lagi sebagai penghalang atau penjerat.

2).           Bottom Gill Net

Pada kedua ujung jaring diikat jangkar, sehingga letak jaring akan tertentu. Hal ini sering juga disebut set bottom gill net. Karena jaring ini direntang dekat pada dasar laut, maka dinamakan bottom gill net, berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan demersal. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera bertanda yang diletakkan pada kedua belah pihak ujung jaring, tetapi tidak dapat diketahui keadaan baik buruk rentangan jaring itu sendiri. Operasi penangkapannya sama dengan surface gill net. Perbedaan hanya posisi jaring dalam air.

3).          Drift Gill Net

Sering juga disebut dengan drift net saja, atau ada juga yang member nama lebih jelas misalnya “salmon drift gill net”, atau “salmon drift trammel net”, dan ada pula yang menerjemahkan dengan jaring hanyut.

Posisi jaring ini tidak ditentukan dengan adanya jangkar, bergerak hanyut bebas mengikuti arah gerak arus. Pada satu pihak dari ujung jaring diletakkan tal;I, dan tali itu dihubungkan dengan kapal, gerakan hanyut darikapal sedikit juga dapat mempengaruhi posisi jaring. Selain dari gaya-gaya arus, gelombang, maka kekuatan angin juga akan mempengaruhi keadaan hanyut pada jaring. Dengan perkataan lain gaya dari angin ingin berkerja pada bagian dari float yang tersembul pada permukaan air.

Berbeda dengan set gill net, maka drift gill net ini da[pat pula digunakan untuk mengejar gelombang ikan, dan merupakan salah satu alat tangkap yang penting untuk perikanan laut bebas. Karena posisi tidak ditentukan oleh jangkar,maka pengaruh dari kecepatan arus terhadap kekuatan tubuh jaring dapat diabaikan. Dengan perkataan lain, gerakan jaring bersamaan dengan gerakan arus, sehingga besarnya tahanan dari jaring terhadap arus dapat diabaikan.

4).           Encricling Gill Net atau Surrounding Gill Net

Gerombolan ikan dilingkari dengan jaring, antara lain digunakan untuk menghadang arah lari ikan. Supaya gerombolan ikan dapat dilingkari/ditangkap dengan sempurna, maka bentuk jaring sewaktu operasi ada yang berbentuk lingkaran, setengah lingkaran, bentuk huruf V dan U, bengkok-bengkok seperti alun gerombolan dan banyak jenis lainnya lagi.

Ikan setelah terkurung dalam lingkaran jaring, dikejuti, sehingga ikan-ikan akan terjerat pada mata jaring. Kadangkala pada bagian dalam dari lingkaran direntangkan pula beberapa lembar jaring, sehingga kemungkinan terjeratnya seluruh ikan yang telah terkurung akan lebih cepat. Tinggi jaring diusahakan sesuai dengan depth dari perairan. Dengan perkataan lain, sinker line harusnya menyentuh pada dasar perairan. Oleh karena itu, pada saat operasi keadaan pasang naik/pasang tureun perlulah mendapatkan perhatian. Alat tangkap ini juga banyak digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan-ikan hidup diperiran karang yaitu dengan cara memasang alat tangkap disekitar atau melingkari karang,kemudian dilakukan pengusiran ikan dengan menyemprotkan air. Ikan yang panic diharapkan akan terjerat oleh jaring.

  1. C. Syarat-Syarat yang Harus Dipenuhi Oleh Alat Tangkap Gill Net

1).           Kekuatan dari Twine (Rigidity of Netting Twine)

Twine yang digunakan hendaklah lembut tidak kaku, pliancy, suppleness, terutama bagi jaring yang ditunjukan untuk menangkap ikan dengan cara entangled. Dengan demikian twine yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nilon, kremona, dan lain lain, dimana twine ini mempunyai fibres yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami, dan lain sebagainya yang fibresnya keras tidak dipergunakan. Untuk mendapatkan twine yang lembut yaitu dengan memperkecil diameter twine atau memperkecil jumlah pilin persatuan panjang dikurangi, atau bahan-bahan celup penberi warna di tiadakan. Kekuatan twine akan mempengaruhi perbedaan jumlah tangkapan ikan .

2).           Ketegangan Rentangan Tubuh Jaring

Yang dimaksud ketegangan rentangan disini adalah rentangan ke arah lebar atau panjang jaring. Keteganagn rentangan ini akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada float line ataupun pada tubuh jaring. Jika jaring dierentang terlalu tegang maka ikan akan sukar terjerat, dan ikan yang sudah terjeratpun akan mudah terlepas.

3).           Shortening atau Shrinkage

Shortening atau shrinkage (pengerutan) yaitu beda panjang trubuh jaring dalam keadaan tegang sempurna (stretch) dengan panjang jaring setelah diletakan pada float line ataupun pada sinkler line, disebutkan dalam persen (%). Perhitungannya dapat dihitung dengan rumus:

(L1-1) x  100%  = Shortening

L1

4).           Tinggi Jaring

Tinggi jaring adalah jarak antara float line ke sinkler line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan.

Pada umumnya untuk surface gill net dan drift gill net jaring lebih lebar jika disbanding dengan bottom gill net.. dengan kata lain, jenis-jenis jaring yang menangkap ikan secara gilled, lebih lebar jika dibandingkan dengan jaring yang menangkap ikan secara entangled.  Menurut perhitungan, jika ,mesh size 2a, jumlah mata jaring pada lebar jaring  n, shortening s, maka tinggi gill net tersebut dalam air akan menjadi : d  =  2an  2s – s²

5).           Mesh Size dan Besar Ikan

Terdapat kecenderungan bahwa suatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gill net akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground tersebut. Berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 607/KPB/UM/9/1976 butir 3, menyatakan bahwa mata jaring di bawah 25 mm dengan toleransi 5% dilarang untuk dioperasikan.

6).           Warna Jaring

Warna jaring yang dimaksudkan disini adalah terutama dari webbing. Warna float, ropes, sinkers dan lain-lain diabaikan, mengingat bahwa bagian terbesar dari gill net adalah webbing. Pada synthetic fibres, net preservation dalam bentuk pencelupan telah tidak diperlukan, kemudian pula warna dari twine dapat dibuat sekehendak hati, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar fishing ability ataupun catch akan dapat lebih diusahakan. Dengan perkataan lain, warna jaring yang sesuai untuk tujuan menangkap jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan dapat diusahakan. Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor depth dari perairan, transparancy, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain faktor, dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat “terlihat” oleh ikan –ikan yang berbeda-beda. Karena tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ini ialah dengan cara gilled dan entangled, yang kedua-duanya ini barulah akan terjadi jika ikan tersebut menubruk atau menerobos jaring, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang, sekecil mungkin. Warna jaring hendaklah sama dengan warna air di perairan tersebut.

  1. D. Bahan dan Spesifikasinya

Pengenalan bahan jaring sintetis dengan mutu yang tinggi telah merangsang perkembangan pemakaian alat ini. Hal ini disebabkan efisiensi penangkapan yang jauh lebih baik yakni 2-13 kali lebih tinggi pada PA monofillament yang transparant (jernih) dibanding dengan bahan serat alami (kapas, rami, rami halus).

1).           Persyaratan

Persyaratan efisiensi penangkapan yang baik memerlukan rendahnya daya rangsang alat untuk organ penglihatan atau organ lateral line sebelum ikan terkait atau terjerat dalam jaring gill net harus disesuaikan dengan kebiasaan hidup ikan melebihi trawl dan purse seine.

Bahan dari gill net harus mempunyai daya tampak sekecil mungkin dalam air, terutama sekali untuk penangkapan di siang hari pada air jernih. Serat jaring juga harus sehalus dan selunak mungkin untuk mengurangi daya penginderaan dengan organ side line. Serat jaring yang lebih tipis juga kurang terlihat. Sebaliknya bahan harus cukup kuat untuk menahan rontaan ikan yaang tertangkap dan dalam upayanya untuk membebaskan diri. Lebih lanjut diperlukan kemuluran dan elastisitas yang tepat untuk menahan ikan yang terjerat atau terpuntal sewaktu alat dalam air atau sewaktu penarikan keatas kapal tetapi tidak menyulitkan sewaktu ikan itu diambil dari jaring. Bahan yang daya mulurnya tinggi untuk beban kecil tidak sesuai untuk gull net karena ukuran ikan yang terjerat pada insang tergantung pada ukuran mata jaring. Jaring perlu memiliki kekuatan simpul yang stabil dan ukuran mata jaring tidak boleh dipengaruhi air.

2).           Macam dan Ukuran Benang

PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.

Sebab banyaknya macam dari gill net sesuai dengan ukuran, ukuran mata jaring, jenis ikan, pola operasi, kondisi penangkapan, dll tidak mungkin memberi rekomendasi yang menyeluruh untuk seleksi bahan jaring. Semua nilai R tex adalah nominal dan berkenaan dengan netting yarn yang belum dicelup dan belum diolah.

3).           Komponen Jaring Insang

Lembaran jaring dilengkapi dengan sejumlah pelampung yang dipasang pada bagian atas dan sejumlah pemberat yang dipasang pada bagian bawah jaring. Komponen jaring insang terdiri dari:

  • Tali pelampung (float line): Seutas tali yang dipergunakan untuk menempatkan dan mengikatkan pelampung.
  • Pelampung (float): Sesuatu benda yang mempunyai daya apung dan dipasang pada jaring bagian atas berfungsi sebagai pengapung jaring.
  • Tali penguat atas (upper selvadge line): Seutas tali yang terletak di antara tali pelampung dengan tali ris atas berfungsi sebagai penguat tali jaring bagian atas.
  • Tali ris atas (head rope): Seutas tali yang dipergunakan untuk menggantungkan tubuh jaring.
  • Serampat atas (upper selvadge): Serampat atas adalah lembaran jaring yang terpasang di atas tubuh jaring berfungsi sebagai penguat tubuh jaring bagian atas.
  • Tubuh jaring (net body): Lembaran jaring yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring (mesh size) yang merata atau sama/seragam.
  • Serampat bawah (lower selvadge): Lembaran jaring yang terpasang di bawah tubuh jaring berfungsi sebagai penguat tubuh jaring bagian bawah.
  • Tali ris samping (side line): Seutas tali yang dipasang pada sisi-sisi tubuh jaring berfungsi sebagai pembatas tinggi jaring insang.
  • Tali ris bawah (ground rope): Seutas tali yang dipergunakan untuk membatasi gerakan jaring ke arah samping.
  • Tali penguat bawah (lower selvadge line): Seutas tali yang terletak di antara tali ris bawah dengan tali pemberat berfungsi sebagai penguat tali jaring bagian bawah.
  • Tali pemberat (sinker line): Seutas tali yang dipergunakan untuk menempatkan dan mengikatkan pemberat.
  • Pemberat (sinker): Benda yang mempunyai daya tenggelam dan dipasang pada jaring bagian bawah, berfungsi sebagai penenggelam jaring.

4).           Selektivitas Jaring Insang (Gill Net)

Gillnet atau Jaring insang bersifat selektif terhadap ikan-ikan berukuran besar (tidak menangkap ikan yang berukuran terlalu kecil atau terlalu besar). Gill net memiliki ukuran mata jaring yang sama atau seragam. Ada beberapa cara dimana ikan tertangkap oleh gill net. Misalnya ikan terjerat tepat di belakang mata, terjerat di belakang tutup insang, terjerat pada bagian di dekat sirip punggung serta terbelit atau terpuntal.

  1. E. Cara Pengoprasian

Dengan menggunakan dua gaya berlawanan arah, yaitu buoyancy dari float yang bergerak menuju ke atas dan singker yang ditambah dengan berat jareing didalam air yang bergerak menuju klebawah, maka jaring akan terlentang./ perimbangan dua gaya inilah yang akan menentukan bauik buruknya rentangan vertical suatu gill net dalam air.

Pada saat melakukan setting, kapal diarahkan ke tengah kemudian dilakukan pemasangan jaring bottom gill net oleh Anak Buah Kapal (ABK). Umumnya dibiarkan selama 2-3 jam. Jaring bottom gill net dipasang tegak lurus terhadap arus sehingga nantinya akan dapat menghadang gerombolan ikan yang sebelumnya telah dipasangi rumpon, dan gerombolan ikan tertarik lalu mengumpul di sekitar rumpon maupun light fishing dan akhirnya tertangkap karena terjerat pada bagian operculum (penutup insang) atau dengan cara terpuntal.

Setelah dilakukan setting dan ikan yang telah terkumpul dirasa sudah cukup banyak, maka dilakukan holling dengan menarik jaring bottom gill net dari dasar perairan ke permukaan (jaring ditarik keatas kapal ). Setelah semua hasil tangkap dan jaring ditarik ke atas kemudian baru dilakukan kegiatan penyortiran.

Pengoperasian jaring insang pada intinya dilakukan secara pasif. Setelah diturunkan ke perairan, alat dibiarkan, umumnya berlangsung selama 2-3 jam. Jaring biasanya dipasang berlawanan dengan arah arus sehingga ikan ikan terjerat ketika mengikuti arah arus. Kadang digunakan kayu untuk memukul pemukaan air sehingga ikan di permukaan bergerak ke arah jaring (dilakukan pada jaring permukaan). Selanjutnya dilakukan pengangkat jaring sambil melepaskan ikan hasil tangkapan ke perahu.

Pengoperasian jaring insang di suatu kawasan pada siang hari, dilengkapi dengan pelampung tanda sedangkan untuk yang diperasikan pada malam hari, maka pelampung tanda dilengkapi dengan cahaya (light bouy) atau pelampung cahaya yang bertujuan agar kapal atau perahu yang akan lewat bisa menghindari alat tangkap yang dipasang.

  1. F. Daerah Penangkapan

Pada umumnya yang menjadi fishing ground atau daerah penangkapan adalah daerah pantai, teluk, dan muara-muara yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis. Perairan lepas juga merupakan daerah penangkapan dengan target ikan-ikan pelagis besar.

  1. G. Musim Penangkapan

Musim penangkapan tergantung jenis ikan tangkapan, misal:

  • Ikan pelagis besar (tongkol dan tenggiri) di perairan barat Sumatera: September – Januari dengan puncak pada Oktober
  • Ikan pelagis besar (cakalang dan tongkol) di perairan selatan Jawa: Juni-Oktober dengan puncak Agustus-September.
  1. H. Hasil Tangkapan

Karena jaring ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe, layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan penangkapan jaring ini.

Jenis-jenis ikanyang terjerat pada mata jaring misalnya saury, sardine, salmon, layang, tembang, kembung,dan lain-lain. Membentuk suaru gerombolan (shoal) dan dapat dikatakan setiap individu mempunyai ukuran yang hamper sama.

  1. I. Prospektif dan Keunggulan Penggunaan Gill Net

Prospektif gill net di Indonesia sangat baik, hal ini dikarenakan secara kuantitatif, jumlahnya cukup besar di Indonesia. Hal-hal yang mempengaruhi besarnya bottom gill net secara kuantitatif di Indonesia :

  • Bahan dasar (material) pembuatan bottom gill net mudah diperoleh.
  • Proses pembuatan bottom gill net mudah.
  • Harganya relatif murah.
  • Fishing method dari bottom gill net mudah.
  • Biaya relatif murah sehingga dapat dimilliki oleh siapa saja.

BAB 3

PENUTUP

 

  1. A. Kesimpulan

Gill net merupakan alat penangkap ikan yang sederhana baik konstruksi maupun pengoperasiannya. Penamaan gill net mengalami berbagai penyesuaian, misalnya bottom gill net untuk gill net yang dipasang di dasar perairan. Gill net tiga lapis atau trammel net untuk gill net yang konstruksi jaringnya terdiri dari tiga lapis. Dapat pula ditambahi nama daerah yang mempopulerkan gill net tersebut, misalnya gill net banyar dan lain-lain.

Kemampuan gill net untuk menjaring ikan berdasarkan kemampuannya untuk menjaring ikan pada insangnya (gilled), yang ditentukan sekali oleh mesh size atau menjeratnya (entangled), seperti pada trammel net.

  1. B. Saran

Pembahasan mengenai metode penangkapan ikan merupakan pembahasan yang diperlukan oleh mahasiswa perikanan, untuk menambah wawasannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sudirman, Mallawa Achmar. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta: Jakarta.

Ayodhyoa, A.U. 1983. Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Faperik: IPB Bogor.

manajamensumberdayaperairan.blogspot.com

id.wikipedia.org

 

 

Nama            : Arfiani Karuniasari

NPM               : 230110070086

Perikanan     : B

Tabel 1.  Identifikasi Bahaya dan Cara Pencegahannya.

Nama produk         :  Bandeng Asap

Deskripsi produk     : Ikan asap merupakan produk olahan yang siap untuk dikonsumsi, artinya tanpa dilakukan pengolahan atau pemasakan ikan asap sudah siap untuk disantap, karena selama proses pengasapan ikan telah mendapat perlakuan panas yang cukup untuk memasak daging ikan dan sekaligus membunuh sebahagian besar bakteri yang terdapat pada ikan. Selain itu pengasapan juga menghasilkan efek pengawetan yang berasal dan beberapa senyawa kimia yang terkandung di dalamnya, khususnva senyawa-senyawa aldehid, keton, dan berbagai asam-asam organik, dan pengasapan menghasilkan rasa serta flavor ikan asap yang spesifik. Namun dibandingkan dengan hasil pengolahan atau pengawetan ikan dengan cara tradisional lainnya seperti cara penggaraman, pemindangan dan fermentasi, ikan asap kurang begitu populer. Kemungkinan hal ini disebabkan masyarakat konsumennya masih terbatas. (http://himathrik2.tripod.com/bandengasap.htm)

 

No. Alur proses Jenis bahaya Cara pencegahan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Ikan dicuci bersih

 

Ikan disiangi kemudian bilas dengan air mengalir.

 

Ikan dimasukkan ke dalam bak yang berisi larutan garam 30% (3 kg garam dengan 10 liter air) selama 3o menit

 

Ikan disusun dan di gantung di batang besi pengasap dengan cara menusuk bagian mulut ikan dan bagian perut dibuka dengan menggunakan lidi atau kayu

 

Kemudian di asap dalam lemari asap dengan asap yang cukup tebal.

 

Pengasapan dingin dengan suhu 55-60 °C selama 4 jam

 

Pengasapan panas dengan suhu 75-80°C selama 2 jam

 

Simpan ikan dalam ruangan yang bersih dan biarkan hingga mencapai suhu ruangan.

 

Kemas dengan plastik polietilen untuk pemasaran.

 

 

1. Bahaya fisik

-adanya rambut, potongan kuku dan kotoran yang masih menempel pada ikan.

- kotoran dari peralatan yang digunakan oleh pembuat. Seperti bak, pisau dan lain-lain.

- debu saat menggantungkan ikan pada besi.

- tertinggalnya serat atau bagian dari lidi dalam perut ikan yang dibuka.

2. Bahaya kimiawi

-bahan kimia dari cairan pembersih alat-alat yang digunakan.

-logam berat dari air.

-zat kimia dari besi untuk menggantung ikan.

3. Bahaya biologis

-bakteri

-mikroba

-mencuci tangan dengan bersih, menggunakan sarung tangan.

-mencuci bersih peralatan sebelum digunakan

-teliti dalam membersihkan ikan dan memeriksa kembali kebersihan ikan setelah mencucinya

-pastikan air yang digunakan untuk mencuci adalah air bersih yang mengandung PH normal

-pastikan tempat penyucian bersih, higienis, tidak tertinggal sedikit pun zat-zat atau sisa dari pencucian alat, dan terdapat saluran pembuangan yang mengalir agar tidak menyebabkan tempat berkumpulnya kuman-kuman, bakteri dan mikroba.

-tempat memproses yang terjaga kebersihannya dan tidak sembarangan tempat.

-pengawasan yang baik selama proses pembuatan.

 

Tabel 2.  Analisa Resiko Bahaya

Nama produk                         : Bandeng Asap

Bahan baku                            : Ikan bandeng segar, larutan garam 30%, arang dan sabut untuk pengasapan.

Konsumen                                : Masyarakat umum.

Cara penyimpanan             : Dikemas dalam plastik polietilen dan dan ditutup sedemikian rupa agar hampa udara.

Cara distribusi                         : Dengan dikemas sedemikian rupa bandeg asap pun didistribusikan dengan mengirimkan ke toko untuk dijual.

Proses pengolahan              :

Tahap 1                                    : Pencucian ikan

Tahap 2                                    : Penyiangan ikan yang kemudian kembali di bilas

Tahap 3                                    : Perendaman dalam larutan garam

Tahap 4                                    : Penggantungan di atas batas besi

Tahap 5                                    : Pengasapan

Tahap 6                                    : Pendinginan

Tahap 7                                    : Pengemasan

 

 

 

No.

 

 

Bahan / ingredient

 

 

 

Kelompok bahaya

 

 

Kategori Resiko

0/I/II/III/IV/V/VI

A

 

B C D E F
1. Ikan Bandeng segar     IV
2. Larutan garam       III
3. Arang       III
4. Sabut       III

Keterangan :

1.  Kelompok Bahaya

a) Bahaya A    :  Makanan untuk konsumen beresiko tinggi (a.l. pasien & gol. Resti)

b) Bahaya B     :  Mengandung bahan yang sensitif thdp bahaya biologis/kimia/fisik

c) Bahaya C    :  Tidak ada tahap untuk mencegah/menghilangkan bahaya

d) Bahaya D    : Kemungkinan mengalami kontaminasi kembali setelah pengolahan

e) Bahaya E     : Kemungkinan penanganan yang salah selama distribusi/konsumsi

f) Bahaya F      : Tidak ada cara mencegah/menghilangkan bahaya oleh konsumen

2. Kategori Bahaya

 

Kategori Resiko Karakteristik Bahaya Keterangan
0 0 (Tidak ada bahaya) Tidak mengandung bahaya A s/d F
I (+) Mengandung satu bahaya B s/d F
II (++) Mengandung dua bahaya B s/d F
III (+++) Mengandung tiga bahaya B s/d F
IV (++++) Mengandung empat bahaya B s/d F
V (+++++) Mengandugn lima bahaya B s/d F
VI A+ Kategori khusus Kategori resiko paling tinggi (semua makanan yang mengandung bahaya A, baik dengan atau tanpa bahaya B s/d F)

 

UTS MANAJEMEN MUTU TERPADU

 

  1. Disini alur proses dan GMP sangat berkaitan. Mengapa? Karena GMP merupakan proses atau cara berproduksi  yang baik dan benar agar dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan aman untuk dikonsumsi. Dan untuk mendapatkan dan menjalankan GMP yang baik harus melalui alur yang baik pula sehingga alur dari proses pembuatan produk yang baik akan mendukung produk tersebut menjadi layak dan aman untuk di konsumsi.

 

  1. Bahan Kimia

Untuk bahan kimia yang akan digunakan dalam produk pangan harus digunakan sesuai aturan, dalam Undang Undang No. 7 Tahun 1996 tentang pangan.

 

Syarat bahan kimia dalam pangan harus memiliki syarat:

• Aman dikonsumsi, tidak menyebabkan gangguan pencernaan.

• Tidak menyebabkan penyakit dalam tubuh seperti diare, dan lain-lain.

• dosis harus sesuai dengan ketentuan.

 

Pestisida harus dicegah agar jangan sampai memasuki ruangan produksi dan agar dapat menjaga keamanan produk. Tidak lupa menyiapkan pemusnah pest.

Harus ada jarak yang sesuai antara toilet dan tempat produksi, agar bakteri dan mikroba yang banyak berkumpul di dalam toilet tidak masuk ke dalam pangan. Harus dijaga kebersihannya, memiliki ventilasi, memiliki pintu yang tahan karat, terdapat sabun untuk membersihkan, dan rutin membersihkan kamar mandi (berkala).

 

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan anitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit.

Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus, dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditularkan.

 

Untuk sepatu diusahakan dalam keadaan bersih dan memakai sepatu khusus dalam memproduksi agar terjamin kebersihannya. Jika perlu disediakan satu wadah bercairan antiseptic untuk dapat  menjadi tempat membersihkan sepatu sebelum melakukan proses produksi.

  1. Air hangat 43oC
  2. Bahan sanitiser dan pengering
  3. Tempat strategis, mudah dijangkau, dekat toilet dan pintu masuk, jumlahnya cukup.
  4. Kadar klor untu cuci tangan : 50 ppm, cuci kaki 100-200 ppm.
  5. Sepatu dicuci dengan mencelupkan dan menyikat sepatu dalam larutan klorin, dengan kadar 150 ppm.

 

 

  1. Ikan asap merupakan produk olahan yang siap untuk dikonsumsi, artinya tanpa dilakukan pengolahan atau pemasakan ikan asap sudah siap untuk disantap, karena selama proses pengasapan ikan telah mendapat perlakuan panas yang cukup untuk memasak daging ikan dan sekaligus membunuh sebahagian besar bakteri yang terdapat pada ikan. Selain itu pengasapan juga menghasilkan efek pengawetan yang berasal dan beberapa senyawa kimia yang terkandung di dalamnya, khususnva senyawa-senyawa aldehid, keton, dan berbagai asam-asam organik, dan pengasapan menghasilkan rasa serta flavor ikan asap yang spesifik. Namun dibandingkan dengan hasil pengolahan atau pengawetan ikan dengan cara tradisional lainnya seperti cara penggaraman, pemindangan dan fermentasi, ikan asap kurang begitu populer. Kemungkinan hal ini disebabkan masyarakat konsumennya masih terbatas. (http://himathrik2.tripod.com/bandengasap.htm)

 

Proses pembuatan ikan bandeng asap

 

  • Ikan dicuci bersih

 

  • Ikan disiangi kemudian bilas dengan air mengalir.

 

  • Ikan dimasukkan ke dalam bak yang berisi larutan garam 30% (3 kg garam dengan 10 liter air) selama 3o menit

 

  • Ikan disusun dan di gantung di batang besi pengasap dengan cara menusuk bagian mulut ikan dan bagian perut dibuka dengan menggunakan lidi atau kayu

 

  • Kemudian di asap dalam lemari asap dengan asap yang cukup tebal.

 

  • Pengasapan dingin dengan suhu 55-60 °C selama 4 jam

 

  • Pengasapan panas dengan suhu 75-80°C selama 2 jam

 

  • Simpan ikan dalam ruangan yang bersih dan biarkan hingga mencapai suhu ruangan.

 

  • Kemas dengan plastik polietilen untuk pemasaran

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A. Latar Belakang

Biologi perikanan berbeda dengan ikhtiologi atau fisiologi hewan air, walaupun merupakan cabang ilmu biologi. Dalam biologi perikanan, dipelajari aspek-aspek biologi ikan dengan tujuan agar orang yang mempelajarinya dapat memanfaatkan dan mengelola sumbrdya perikanan secara berkelanjutan. Dengan mempelajari aspek biologi, seseorang akan lebih memahami semberdaya perikanan dan tidak melihatnya dari segi ekonomi saja. Salah satu aplikasinya, seseorang dapat mengetahui kapan waktu yang tepat serta berapa banyak jumlah ikan yang dapat ditangkap dengan terlebih dahulu memahami ruaya serta musim kawin ikan tersebut. Serta masih banyak lagi contoh-contoh aplikasi yang lain.

Dalam tataran yang lebih luas, seorang ahli biologi perikanan dapat membuat suatu masukan mengenai pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan yang optimal, berdasarkan pemahaman dan risetnya. Masukan ini dapat diserahkan kepada Pemerintah yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat keputusan atau aturan terkait. Dengan demikian dapat berkontribusi dalam pengembangan perikanan di Indonesia.

 

  1. B. Tujuan

Untuk mengetahui krakteristik belut ditinjau dari aspek biologi perikanan, yaitu rasio panjang dengan berat, indeks kematangan gonad, tingkat kematangan gonad, fekunditas, dan food and feeding habits. Sehingga dapat memberi gambaran bagi mahasiswa mengenai pemanfaatan dan pengelolaan populasi belut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Belut (Monopterus albus)

Klasifikasi

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Actinopterygii

Order               : Synbranchiformes

Family             : Synbranchidae

Genus              : Monopterus

Species            : Monopterus albus

Belut sawah, moa, atau lindung (Monopterus albus) adalah sejenis ikan anggota suku Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Secara ekologi, belut dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi. Lenyapnya belut menandakan kerusakan lingkungan yang sangat parah telah terjadi.

Belut adalah predator ganas di lingkungan rawa dan sawah. Makanannya ikan kecil, cacing, krustasea. Ia aktif di malam hari. Hewan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu hidup berbulan-bulan tanpa air, asalkan lingkungannya tetap basah. Hewan ini mampu menyerap oksigen bahkan lewat kulitnya. Kebiasaaannya adalah bersarang di dalam lubang berlumpur dan menunggu mangsa yang lewat. Walaupun berasal dari daerah tropis, belut sawah diketahui dapat bertahan pada musim dingin dengan suhu sangat rendah. Kombinasi sifat-sifat yang dimiliki belut membuatnya menjadi hewan yang dianggap berbahaya bagi lingkungan yang bukan habitatnya.

Ukuran maksimum adalah 1m. Tidak memiliki sirip, kecuali sirip ekor yang memanjang. Bentuk tubuhnya menyerupai tabung dengan tubuh licin, tanpa sisik. Warna bervariasi, namun biasanya kecoklatan hingga kelabu.

Hewan betina bersarang di lubang, dan meletakkan telur-telurnya pada busa-busa di air yang dangkal. Jika telur menetas, keluarlah belut muda yang semuanya betina. Dalam perkembangannya, beberapa ekor akan menjadi jantan, sehingga belut digolongkan hewan protogini.

Belut sawah berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara barat. Belut bahkan sekarang dilaporkan telah menghuni rawa-rawa di Hawaii, Florida, dan Georgia di Amerika Serikat dan dianggap sebagai hewan invasif.

  1. B. Rasio Panjang dan Berat Ikan

Panjang tubuh sangat berhubungan dengan berat tubuh. Hubungan penjang dengan berat seperti hukum kubik, yaitu bahwa berat sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan dan udang berbeda-beda. Rumus menentukan berat ikan:

W= a.Lb , dengan W=berat ikan, L=panjang ikan, a&b=konstanta.

Rumus umum tersebut bila ditransformasikan ke dalam logaritma, maka kita akan mendapatkan persamaan sebagai berikut: log W = log a + b log L, yaitu persamaan linier atau persamaan garis lurus. Harga konstanta n ialah harga pangkat yang harus cocok dari panjang ikan agar sesuai dengan berat ikan. Menurut Carlander (1969) dan Effendie (1997) harga eksponen ini telah diketahui dari 398 populasi ikan berkisar 1,2-4,0. Namun, biasanya harga konstanta n berkisar dari 2,4-3,5. Bilamana harga konstanta n sama dengan 3,0 menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya yaitu pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan beratnya, yang disebut isometrik. Apabila harga konstanta n lebih besar atau lebih kecil dari 3,0 dinamakan pertumbuhan allometrik. Harga konstanta n yang kurang dari 3,0 menunjukkan keadaan ikan yang kurus yaitu pertumbuhan panjangnya lebih cepat dari pertumbuhan beratnya, sedangkan harga konstanta n lebih besar dari 3,0 menunjukkan ikan itu montok, pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjangnya.

 

  1. C. Indeks Kematangan Gonad

Cara menentukan tingkat kematangan gonad dengan metode kuantitatif atau pengukuran. IKG ditentukan dengan membandingkan berat gonad dengan berat tubuh yang dinyatakan dengan persen. Rumusnya:

IKG= (berat gonad:berat tubuh) x 100%

Nilai IKG akan semakin meningkat saat iakn siap memijah. Nilai IKG ikan betina lebih besar dibandingkan nilai IKG ikan jantan. Nilai IKG dapat dibandingkan dengan TKG, misalnya membandingkan nilai IKG pada berbagai TKG.

 

  1. D. Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad atau TKG adalah cara menentukan kematangan gonad berdasarkan morfologi gonad. Cara ini banyak diapakai peneliti dibandingkan metode histologi. Praktikum kali ini menggunakan TKG khusus ikan hermaprodit protogini:

  1. Kelas 1; ovary tidak matang, didapatkan oocyt tingkat 1 dan 2. bila tidak terdapat jaringan yang mengkerut menunjukan belum pernah terjadi pemijahan.
  2. Kelas 2; betina dengan ovary matang beristirahat, terdapat oocyt tingkat 1, 2, dan 3. mungkin terdapat jaringan mengkerut sisa pemijahan dulu.
  3. Kelas 3; betina matang aktif, kebanyakan oocyt tingkat 3 dan 4. secara morfologi ovary berkembang mudah dikenal.
  4. Kelas 4; betina pasca pemijahan, kelas ini susah didapatkan.
  5. Kelas 5; transisi, sukar dikenal. Dari luar, gonad terlihat mengkerut dan di dalamnya kosong. Jaringan mengkerut banyak didapatkan di bagian tengah.
  6. Kelas 6; testes tidak matang, hampir sama dengan kelas sebelumnya, banyak didapatkan kerutan.
  7. Kelas 7; testes menuju masak, didapatkan kelompok kantung spermatogonia, spermatocyt 1 dan 2.
  8. Kelas 8; testes masak, banyak spermatocyt 1 dan 2. didapatkan pula sperma di dalam kantung.
  9. Kelas 9; testes masak sekali. Banyak didapatkan spermatozoa di dalam kantung.  Spermatocyt tingkat awal sangat jarang.
  10. Kelas 10; testes pasca pemijahan. Kantung sperma umumnya kosong.

 

  1. E. Fekunditas

Fekunditas merupakan salahsatu aspek yang penting dalam biologi perikanan. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah ikan yang akan dihasilkan. Hal ini akan berhubungan dengan masalah populasi, produksi maupun restocking.

Fekunditas memiliki banyak arti di kalangan ahli. Ada yang berpndapat fekunditas adalah jumlah telur yang akan dikeluarkan pada satu kali pemijahan. Atau jumlah telur yang dierami seperti pada ikan mujair, dan juga pengertian lainnya. Dalam praktikum kali ini, praktikan menggunakan pengertian fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan saat pemijahan.

 

  1. F. Food and Feeding Habits

Food habits memiliki arti yang berbeda dengan feeding habits., karena keduanya sering disamakan dalam hal defiisi. Food habits mencakup kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan sementara feding habits mencakup cara ikan dalam mendapatkan makanan. Kebiasaan makan dan cara memakan ikan itu secara alami bergantung kepada lingkungan itu hidup.

Ikan dibagi menjadi tida macam berdasarkan jeni makanannya, yaitu:

  1. Omnivora: ikan pemakan tumbuhan dan daging, biasanya memiliki usus yang tidak terlalu panjang dan dinding usus tidak terlalu tebal.
  2. Karnivora: ikan pemakan daging, biasanya memiliki usus yang pendek dan dindingnya yang tebal.
  3. Herbivora: ikan pemakan tumbuhan, biasanya memiliki usus yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya serta dinding ususnya sangat halus dan basah.

 

BAB III

ALAT DAN BAHAN

 

  1. A. Alat
  2. Penggaris
  3. Neraca ohauss
  4. Gelas ukur
  5. Cawan petri
  6. Mikroskop
  7. Kaca objek
  8. Pipet tetes
  9. Pinset
  10. Baki
  11. Peralatan bedah

 

  1. B. Bahan
  2. Akuades
  3. Belut

 

BAB IV

PROSEDUR PRAKTIKUM

 

Praktikum kali ini mengenai belut, yang meliputi penghitungan rasio panjang dengan berat, indeks kematangan gonad, tingkat kematangan gonad, fekunditas, dan food and feeding habits.

 

  1. A. Rasio Panjang dan Berat
    1. Mengukur total length ikan dari ujung kepala sampai ujung ekor.
    2. Mengukur standar length ikan dari ujung kepala sampai pangkal ekor.
    3. Menimbang berat ikan.

 

  1. B. Indeks Kematangan Gonad
    1. Membedah perut ikan dan mengeluarkan gonadnya.
    2. Menimbang berat gonad ikan.
    3. Membandingkannya dengan berat ikan.

 

  1. C. Tingkat Kematangan Gonad
    1. Membedah perut ikan.
    2. Mengeluarkan gonad ikan agar mudah diamati.
    3. Mengamati morfologi gonad ikan dan membandingkan kematangan gonadnya dengan skala TKG khusus ikan hermaprodit protogini.

  1. D. Fekunditas

Metoda volumetri:

  1. Mengisi gelas ukur sampai volume tertentu.
  2. Memasukkan seluruh gonad ikan betina ke dalam gelas kimia dan mencatat perubahan volumenya sebagai V.
  3. Mengambil 2 gram telur dari kedua gonad ikan betina.
  4. Memasukkan sampel gonad ikan tersebut dan menghitung perubahan volumenya sebagai v.
  5. Mengencerkan sampel gonad ikan betina pada cawan petri dan mengaduknya sehingga telur tersebar merata.
  6. Membagi cawan petri menjadi empat bagian.
  7. Menghitung telur dengan cara sensus di satu bagian cawan petri menggunakan hand counter lalu dikali empat. Jumlah sel telur ini sebagai x.

Metoda von Bayer:

  1. Mengambil satu butir telur ikan yang diamati.
  2. Meletakan telur ikan pada kaca objek khusus.
  3. Menlihat di bawah mikroskop dan mengukur diameter telur ikan.

 

  1. E. Food and Feeding Habits
    1. Mengeluarkan usus ikan agar mudah diamati.
    2. Mengukur panjang usus ikan.
    3. Mengeluarkan isi usus ikan kemudian diencerkan dengan akuades.
    4. Mengambil setetes isi usus yang sudah diencerkan, dan melihatnya di mikroskop.
    5. Mencatat spesies plankton yang terdapat pada isi usus ikan.

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Data kelas perikanan b

No Nama Praktikan Seksualitas Pertumbuhan Perkembangan Gonad Food and Feeding Habits
Jantan Interseks Betina TL (mm) SL (mm) Berat (gr) TKG IKG (%) Fekunditas P. Usus (cm) Trofik level
1 Anjar Wahyu A.

Succy Lestari

Aep Ruhiat

    473 - 70 Kelas 4 1     Herbivora
2 Dewi Addinilia

Nur Zam-zam

Aloysius Dimas

    210 - 9 Kelas 2 0,22     Herbivora
3 Dede Ahdiat

Ramduni Barqah

Melati Annisa

                    Herbivora
4 Sugianto

R. Rocky Savoetra

Febyanti Utami

    440 - 55 - 0,54     Herbivora
5 Roy Docklas

Arfiani Karuniasari

Reza Hamzah

    420 - 50 Kelas 5 0,8     Herbivora
6 Harry Akbar D.

Vannie Elsis M.

Ranita Tiarawaty

    485 - 105 Kelas 3 0,4     Herbivora
7 Arief Rahman

Nurdin Arif

Richardson Sitohang

    400 - 50 Kelas 3 0,6     Herbivora
8 Arya Bayu

Harry Siddiq

    403 - 14 Kelas 7 3,7     Herbivora
9 Yurivalendra

Tegar Al-Ghafany

Sandy Destra

    400 - 35 Kelas 5 1,71     Herbivora
10 Lela Komalasari

M. Rudyansyah

Nofi Puji U.

    220 - 9 Kelas 10 0,1 60   Herbivora
11 Nur Fajrie M.

Aini Andriani

Taufik Hidayat

    360 - 61 Kelas 7 0,49     Herbivora
12 Galang Satrya

Zano Maylendo

Rully Johan

    220 - 7 Kelas 1 0,17     Herbivora
13 Bayu Reksono

Tommy Irawan

Rovi Rizqia Qudus

      225 180 10,2 - -   15,7 Carnivora
14 Rinaldy Amanta

Lucky Rizki R.

    240 215 10 - -   13 Carnivora
15 Lukman Hakim

Wielmarte H.

Windy Meuraxa

    430 400 69,5 Kelas 4 0,03   25 Carnivora
16 M. Iqbal

Devi Nurkhasanah

Samsuri

    440 390 71,8 - 0,006   20 Carnivora
17 Raymond Marbun

Junianto Wibowo

Ajie Tirta

    215 185 9,5 Kelas 5 0,03   14,5 Carnivora
18 Hendrawawansah

Azwan Ruswandi

    440 415 68,5 - 0,02   12,3 Carnivora
19 Romauli Siskayani

Riyanti Puspa Dewi

Setiani

    420 410 84 Kelas 10 0,12   24 Carnivora
20 Asep Sahidin

Exa Dini E.

    370 360 65,4 - 0,02   20 Carnivora
21 Ruddy Perwiranegara

Dimas Akhirulla

Irmasari

    240 235 9,66 - 0,02 19696 17 Carnivora
21 kelompok 8 4 7                

 

Kelas 1 = 2 ekor          Kelas 3 = 3 ekor          Kelas 4 = 2 ekor          Kelas 5 = 3 ekor

Kelas 7 = 2 ekor          Kelas 10 = 1 ekor

No P B Log P Log B Log P * Log B Logn (B*P) Log P^2
1 - 70 - 1,845098 - - -
2 - 9 - 0,954243 - - -
3 - - - - - - -
4 - 55 - 1,740363 - - -
5 - 50 - 1,69897 - - -
6 - 105 - 2,021189 - - -
7 - 50 - 1,69897 - - -
8 - 14 - 1,146128 - - -
9 - 35 - 1,544068 - - -
10 - 9 - 0,954243 - - -
11 - 61 - 1,78533 - - -
12 - 7 - 0,845098 - - -
13 18 10,2 1,255273 1,0086 1,266068064 2,2638727 1,575709
14 21,5 10 1,332438 1 1,33243846 2,3324385 1,775392
15 40 69,5 1,60206 1,841985 2,95097016 3,4440448 2,566596
16 39 71,8 1,591065 1,856124 2,953213909 3,4471891 2,531487
17 18,5 9,5 1,267172 0,977724 1,238943711 2,2448953 1,605724
18 41,5 68,5 1,618048 1,835691 2,970235635 3,4537387 2,61808
19 41 84 1,612784 1,924279 3,103446568 3,5370631 2,601072
20 36 65,4 1,556303 1,815578 2,82558819 3,3718802 2,422077
21 23,5 9,66 1,371068 0,984977 1,350470483 2,356045 1,879827
279 863,56 13,20621 13,24496 19,99137518 26,451167 174,404

 

log a   b
0,007799277   0,9976189

 

Pembahasan :

Dari data diatas, jika dianggap semua belut dari satu perairan dapat dapat disimpulkan bahwa:

  1. Perairan tersebut di dominasi oleh belut jantan, dengan jantan berjumlah 8 ekor, betina berjumlah 7 ekor, serta belut interseks 4 ekor. Perbandingan jantan dengan betina 8:7, bukan perbandingan yang baik karena dapat memicu kanibalisme. Perbandingan yang baik adalah 2:1 untuk betina.
  2. Berdasarkan persentasi tingkat kematangan gonadnya, ikan-ikan di perairan tersebut belum siap untuk memijah, karena TKG bervariasi.
  3. Tingkat pertumbuhan populasi belut di atas tidak sama, mungkin dipengaruhi oleh makanan.
  4. Berdasarkan data hasil penelitian belut diatas, terdapat perbedaan persepsi mengenai penentuan trofik level belut, anatar herbivore dan karnivora. Namun menurut literatur yang didapatkan, belut termasuk karnivora.
  5. Berdasarkan tabel relasi panjang berat maka sebagian besar b < 3, (b=log p x log b), ikan demikian disebut allometrik yaitu pertumbuhan panjang lebih cepat dibanding pertumbuhan berat. Ikan tipe ini akan terlihat kurus.

 

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN

 

  • Tingkat Kematangan Gonad dan Indeks Kematangan Gonad berguna untuk menentukan kesiapan ikan untuk memijah. TKG menghasilkan data kuantitatif dan IKG menghasilkan data kualitatif. TKG bervariasi antar kelompok, sedangkan IKG memberikan gambaran yang sama, yaitu berkisar 0,005-2 persen.
  • Food and Feeding Habits digunakan untuk menentukan kebiasaan makan suatu ikan. Berdasarkan hasil percobaan, kelas kami berbeda pendapat mengenai trofik level, antara herbivora dan carnivora. Namun menurut literatur yang didapatkan, belut termasuk karnivora.
  • Berdasarkan pengamatan, belut berukuran kecil berkelamin betina sedangkan belut berukuran besar berkelamin jantan. Belut termasuk hermaprodit protogini, yaitu perubahan gonad dari ovarium ke testes.
  • Belut termasuk hewan allometrik (b<3), yaitu pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan berat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dwi Setiawan, Hendy. 2009. Usulan Tugas Akhir: Analisis Hubungan Antara Panjang dan Berat Udang Putih. Prodi Budidaya Perikanan, Akademi Perikanan Wachyudi Mandira.

Effendie Msc, Prof. Dr. H. Moch Ichsan. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara.

Effendie Msc, Prof. Dr. H. Moch Ichsan. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara.

www.fishbase.org

id.wikipedia.org

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Biologi perikanan berbeda dengan ikhtiologi atau fisiologi hewan air, walaupun merupakan cabang ilmu biologi. Dalam biologi perikanan, dipelajari aspek-aspek biologi ikan dengan tujuan agar orang yang mempelajarinya dapat memanfaatkan dan mengelola sumbrdya perikanan secara berkelanjutan. Dengan mempelajari aspek biologi, seseorang akan lebih memahami semberdaya perikanan dan tidak melihatnya dari segi ekonomi saja. Salah satu aplikasinya, seseorang dapat mengetahui kapan waktu yang tepat serta berapa banyak jumlah ikan yang dapat ditangkap dengan terlebih dahulu memahami ruaya serta musim kawin ikan tersebut. Serta masih banyak lagi contoh-contoh aplikasi yang lain.

Dalam tataran yang lebih luas, seorang ahli biologi perikanan dapat membuat suatu masukan mengenai pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan yang optimal, berdasarkan pemahaman dan risetnya. Masukan ini dapat diserahkan kepada Pemerintah yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat keputusan atau aturan terkait. Dengan demikian dapat berkontribusi dalam pengembangan perikanan di Indonesia.

 

  1. B. Tujuan

Untuk mengetahui krakteristik ikan kembung ditinjau dari aspek biologi perikanan, yaitu rasio panjang dengan berat, indeks kematangan gonad, tingkat kematangan gonad, fekunditas, dan food and feeding habits. Sehingga dapat memberi gambaran bagi mahasiswa mengenai pemanfaatan dan pengelolaan populasi ikan kembung.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta)

Klasifikasi

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                : Actinopterygii

Order               : Perciformes

Family             : Scombridae

Genus              : Rastrelliger

Species            : Rastrelliger kanagurta

Ikan kembung atau seringkali disebut indian mackerel, merupakan salah satu komoditas penting perikanan tangkap. Ikan kembung memiliki panjang maksimal 35 cm TL. Termasuk ikan pelagis di zona neritik, oseanodrom. Swimming layer berkisar antara 20 – 90 m. Larva kembung memakan fitoplakton seperti jenis diatom laut dan jenis zooplankton kecil seperti ladoceran, ostracods, larva polychaetes, dan lain-lain.

Tubuh streamline. Panjang usus biasanya 1,4 sampai 1,8 kali panjang FL. Warna tubuh terdapat garis hitam memanjang di bagian punggung dan bintik hitam di tubuh dekat sirip pectoral. Sirip dorsal berwarna kuning dengan ujung hitam. Sirip caudal dan pectoral berwarna kekuning-kuningan.

Penyebaran terbanyak di Samudera Hindia dan sebagian Pasifik Timur, seperti terlihat pada gambar.

Ikan ini merupakan jenis schooling fish atau ikan yang bergerombol. Ikan ini berenang dengan cara mulut dan tapis insang terbuka. Ini merupakan cara ikan ini makan dengan menyaring plankton yang masuk ke mulut dan tersaring di tapis insang. Panjang tubuh  maksimal ikan kembung bias mencapai 35 cm.

Di Indonesia sendiri penyebarannya sangat luas, diantaranya selat malaka (Dekat Banda Aceh), Laut Jawa, Laut Selatan Jawa, dan perairan timur laut lainnya. Ikan kembung juga banyak di temuan di perairan lain di luar Indonesia.

  1. B. Rasio Panjang dan Berat Ikan

Panjang tubuh sangat berhubungan dengan berat tubuh. Hubungan penjang dengan berat seperti hukum kubik, yaitu bahwa berat sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan dan udang berbeda-beda. Rumus menentukan berat ikan:

W= a.Lb , dengan W=berat ikan, L=panjang ikan, a&b=konstanta.

Rumus umum tersebut bila ditransformasikan ke dalam logaritma, maka kita akan mendapatkan persamaan sebagai berikut: log W = log a + b log L, yaitu persamaan linier atau persamaan garis lurus. Harga konstanta n ialah harga pangkat yang harus cocok dari panjang ikan agar sesuai dengan berat ikan. Menurut Carlander (1969) dan Effendie (1997) harga eksponen ini telah diketahui dari 398 populasi ikan berkisar 1,2-4,0. Namun, biasanya harga konstanta n berkisar dari 2,4-3,5. Bilamana harga konstanta n sama dengan 3,0 menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya yaitu pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan beratnya, yang disebut isometrik. Apabila harga konstanta n lebih besar atau lebih kecil dari 3,0 dinamakan pertumbuhan allometrik. Harga konstanta n yang kurang dari 3,0 menunjukkan keadaan ikan yang kurus yaitu pertumbuhan panjangnya lebih cepat dari pertumbuhan beratnya, sedangkan harga konstanta n lebih besar dari 3,0 menunjukkan ikan itu montok, pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjangnya.

 

  1. C. Indeks Kematangan Gonad

Cara menentukan tingkat kematangan gonad dengan metode kuantitatif atau pengukuran. IKG ditentukan dengan membandingkan berat gonad dengan berat tubuh yang dinyatakan dengan persen. Rumusnya:

IKG: (berat gonad/berat tubuh) x 100%

Nilai IKG akan semakin meningkat saat iakn siap memijah. Nilai IKG ikan betina lebih besar dibandingkan nilai IKG ikan jantan. Nilai IKG dapat dibandingkan dengan TKG, misal membandingkan nilai IKG pada berbagai TKG.

 

  1. D. Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad atau TKG adalah cara menentukan kematangan gonad berdasarkan morfologi gonad. Cara ini banyak diapakai peneliti dibandingkan metode histologi. Praktikum kali ini menggunakan TKG menurut Kesteven:

  1. Dara, organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung. Testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai berwarna abu-abu. Telur tidak terliohat dengan mata biasa.
  2. Dara berkembang, testes dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu per satu dapat terlihat dengan kaca pembesar.
  3. Perkembangan 1, testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwrna kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad megisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih.
  4. Perkembangan 2, testes berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisi kira-kira dua per tiga ruang bawah.
  5. Bunting, organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih, keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari padanya jernih dan masak.
  6. Mijah, telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut. Kebanyakan telur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal di dalam ovarium.
  7. Mijah/Salin, gonad belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang bulat telur
  8. Salin, testes dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
  9. pulih salin, testes dan ovarium berwarna jernih, abu-abu sampai merah.

 

  1. E. Fekunditas

Fekunditas merupakan aspek yang penting dalam biologi perikanan. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah ikan yang akan dihasilkan. Hal ini akan berhubungan dengan masalah populasi, produksi maupun restocking.

Fekunditas memiliki banyak arti di kalangan ahli. Ada yang berpndapat fekunditas adalah jumlah telur yang akan dikeluarkan pada satu kali pemijahan. Atau jumlah telur yang dierami seperti pada ikan mujair, dan juga pengertian lainnya. Dalam praktikum kali ini, praktikan menggunakan pengertian fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan saat pemijahan.

 

  1. F. Food and Feeding Habits

Food habits memiliki arti yang berbeda dengan feeding habits., karena keduanya sering disamakan dalam hal defiisi. Food habits mencakup kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan sementara feding habits mencakup cara ikan dalam mendapatkan makanan. Kebiasaan makan dan cara memakan ikan itu secara alami bergantung kepada lingkungan itu hidup.

Ikan dibagi menjadi tida macam berdasarkan jeni makanannya, yaitu:

  1. Omnivora: ikan pemakan tumbuhan dan daging, biasanya memiliki usus yang tidak terlalu panjang dan dinding usus tidak terlalu tebal.
  2. Karnivora: ikan pemakan daging, biasanya memiliki usus yang pendek dan dindingnya yang tebal.
  3. Herbivora: ikan pemakan tumbuhan, biasanya memiliki usus yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya serta dinding ususnya sangat halus dan basah.

 

BAB III

ALAT DAN BAHAN

A. Alat

  1. Alat tulis (kertas dan pulpen)
  2. Penggaris
  3. Neraca ohauss
  4. Gelas ukur
  5. Cawan petri
  6. Mikroskop
  7. Kaca objek
  8. Peralatan bedah

 

  1. B. Bahan
  2. Akuades
  3. Ikan kembung

 

BAB IV

PROSEDUR PRAKTIKUM

 

Praktikum kali ini mengenai ikan kembung, yang meliputi penghitungan rasio panjang dengan berat, indeks kematangan gonad, tingkat kematangan gonad, fekunditas, dan food and feeding habits.

 

  1. A. Rasio Panjang dan Berat
    1. Mengukur total length ikan dari ujung kepala sampai ujung ekor.
    2. Mengukur standar length ikan dari ujung kepala sampai pangkal ekor.
    3. Menimbang berat ikan.

 

  1. B. Indeks Kematangan Gonad
    1. Membedah perut ikan dan mengeluarkan gonadnya.
    2. Menimbang berat gonad ikan.
    3. Membandingkannya dengan berat ikan.

 

  1. C. Tingkat Kematangan Gonad
    1. Membedah perut ikan.
    2. Mengeluarkan gonad ikan agar mudah diamati.
    3. Mengamati morfologi gonad ikan dan membandingkan kematangan gonadnya dengan skala TKG menurut Kesteven.

  1. D. Fekunditas
    1. Mengisi gelas ukur sampai volume tertentu.
    2. Memasukkan seluruh gonad ikan betina ke dalam gelas kimia dan mencatat perubahan volumenya sebagai V.
    3. Mengambil 2 gram telur dari kedua gonad ikan betina.
    4. Memasukkan sampel gonad ikan tersebut dan menghitung perubahan volumenya sebagai v.
    5. Mengencerkan sampel gonad ikan betina pada cawan petri dan mengaduknya sehingga telur tersebar merata.
    6. Membagi cawan petri menjadi empat bagian.
    7. Menghitung telur dengan metode sensus di satu bagian cawan petri menggunakan hand counter lalu dikali empat. Jumlah sel telur ini sebagai x.
    8. E. Food and Feeding Habits
      1. Mengeluarkan usus ikan agar mudah diamati.
      2. Mengukur panjang usus ikan.
      3. Mengeluarkan isi usus ikan kemudian diencerkan dengan akuades.
      4. Mengambil setetes isi usus yang sudah diencerkan, dan melihatnya di mikroskop.
      5. Mencatat spesies plankton yang terdapat pada isi usus ikan.

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A. Data kelompok 14

  1. Relasi Panjang Dan Berat

-                Panjang Total                      : 180 mm

-                Panjang Standar                  : 150 mm

-                Berat Badan                        : 70 gram

 

  1. IKG (Indeks Kematangan Gonad)

=  3,29%

 

  1. TKG (Tingkat Kematangan Gonad)

Ikan kembung pada tahap Perkembangan II. Testes berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisi kira-kira dua per tiga ruang bawah.

 

  1. Fekunditas

Untuk menghitung jumlah telur yang siap dipijahkan, dengan rumus:

X : x = V : v

Keterangan:

X: jumlah telur keseluruhan

x: jumlah telur yang dihitung secara manual

V: penambahan volume air setelah dimasukkan telur

v: penambahan volume air setelah dimasukkan sample telur

 

  1. Feeding Habit (Kebiasaan Makan)

-                Panjang usus           : 65,5 cm

-                Isi usus ikan            : bercak-bercak hijau potongan-potongan tumbuhan

-                Plankton                  : zooplankton keluarga crustacean seperti cyclop.

  1. B. Data kelas perikanan b
No Nama Praktikan Seksualitas Pertumbuhan Perkembangan Gonad Food and Feeding Habits Tingkat Tropik
jantan betina TL(mm) SL(mm) Berat TKG IKG(%) Fekunditas P. Usus isi Usus
1 Anjar Wahyu A 200 175 70 perk. II 4.3 - 103 Pteurosigma sp Herbivor
Succy Lestari Cosmarium sp
Aep Ruhiat
2 Dewi Addinilia 187 157 40 perk. II 4 - 76 Chlorophyta Omnivor
Nur Zamzam Rotatoria
Aloysius Dimas
3 Dede Ahdiat 180 150 40 perk. II 3.5 - 57 Anabaena Omnivor
Ramduni Barqah Artemia
Melati Annisa Spirullina
4 Sugianto 188 147 40 perk. II 8.8 11,877 59 Chlorella Omnivor
R.Rocky Savoetra Spirullina
Febyanti Utami Daphnia
5 Roy Docklas 188 150 40 perk. II 3 - 60.5 Spirullina Omnivor
Arfiani Karuniasari Chlorella
Reza Hamzah Artemia
6 Harry Akhbar D 180 160 60 perk. II 0.5 11,107 68 Spirullina Omnivor
Vannie Elsis Artemia
Ranita Tyarawatty
7 Arief Rachman 190 155 45 bunting - Spirullina Omnivor
Nurdin Arif Artemia
Richardson Sitohang Diatom
8 Arya Bayu 183 152 45 perk. II 5.7 - 79 Rhopidium Herbivor
Harri Sidiq
9 Yurivalendra 185 153 43 perk. II 3.3 - 66 Eudorina walichii Omnivor
Tegar Alghafany Nitzchia sp
Sandy Destra Triplo
10 Lela Komalasari 189 152 60 bunting 7.1 33 Spirullina Omnivor
M.Rudyansah
Nofi Puji
11 Nurfajri M 185 165 50 perk.I 7.1 9,750 62 Microcystis Omnivor
Aini Andriyani
Taufik Hidayat
12 Galang Satrya 200 165 75 Perk II 6.7 47 Omnivor
Zano Maylendo
Rully Johan
13 Bayu Reksono 194 155 93 bunting 4.2 68,9 Herbivor
Tommy Irawan
Rovi Rizqia
14 Rinaldy Amanta 180 150 70 Perk II 3.2 65,5 Herbivor
Lucky Rizki R
15 Windy Meuraxa 187 150 71 bunting 7 18.432 72 Herbivor
Wielmarte
Lukman Hakim
16 M. Iqbal 181 153 74 bunting 2.9 14.392 62,5 Omnivor
Devi Nurkhasanah
Samsuri
17 Raymond Marbun 190 170 79 bunting 4.9 15.516 82 Herbivor
Junianto Wibowo
Aji Tirta
18 Hendrawawansah 181 153 74 bunting 2.9 14.392 62,5 Omnivor
Azwan Ruswandi
18 Romauli Siskayani 190 168 95 Perk II 5.9 60 Herbivor
Riyanti Puspa
Setiani
20 Asep Sahidin 180 145 64 Dara berkembang 0.9 62 Omnivor
Eva Dini Erdiyani
21 Rudyy Perwiranegara 200 170 99 mijah 5.7 19696 63 Omnivor
Dimas Akhirulla
Irmasari
21 Kelompok 12 9
  Betina = 9 ekor Perkembangan II = 11 ekor 52.381  
  Jantan = 12 ekor Bunting = 7 33.333  
  Mijah = 1 4.7619  
  dara berkembang 1 ekor 4.7619  
  Perkembangan 1 =1 4.7619  

 

 

No P B Log P Log B Log P * Log B Logn (B*P) Log P^2
1 17.5 70 1.243038 1.845098 2.293527067 3.0881361 1.545144
2 15.7 40 1.1959 1.60206 1.915902987 2.7979596 1.430176
3 15 40 1.176091 1.60206 1.884168752 2.7781513 1.383191
4 14.7 40 1.167317 1.60206 1.870112399 2.7693773 1.36263
5 15 40 1.176091 1.60206 1.884168752 2.7781513 1.383191
6 16 60 1.20412 1.778151 2.141107453 2.9822712 1.449905
7 15.5 45 1.190332 1.653213 1.967871259 2.8435442 1.41689
8 15.2 45 1.181844 1.653213 1.953838609 2.8350561 1.396754
9 15.3 43 1.184691 1.633468 1.935156082 2.8181599 1.403494
10 15.2 60 1.181844 1.778151 2.101496654 2.9599948 1.396754
11 16.5 50 1.217484 1.69897 2.068468702 2.9164539 1.482267
12 16.5 75 1.217484 1.875061 2.282856983 3.0925452 1.482267
13 15.5 92.6 1.190332 1.966611 2.340919395 3.1569427 1.41689
14 15 70 1.176091 1.845098 2.170003677 3.0211893 1.383191
15 15 71 1.176091 1.851258 2.177248762 3.0273496 1.383191
16 15.3 74.3 1.184691 1.870989 2.216544415 3.0556802 1.403494
17 17 95 1.230449 1.977724 2.433487877 3.2081725 1.514005
18 15.3 74.3 1.184691 1.870989 2.216544415 3.0556802 1.403494
19 16.8 95 1.225309 1.977724 2.42332309 3.2030329 1.501383
20 14.5 63.7 1.161368 1.804139 2.095269808 2.9655074 1.348776
21 17 99 1.230449 1.995635 2.455527173 3.2260841 1.514005
329.5 1342.9 25.09571 37.48373 940.680793 62.57944 629.7946

log a log b
0.002721228 1.49135408

 

 

Pembahasan :

Dari data diatas, jika dianggap semua ikan kembung dari satu perairan dapat dapat disimpulkan bahwa:

  1. Perairan tersebut di dominasi oleh ikan kembung jantan, dengan jantan berjumlah 12 ekor, betina berjumlah 9 ekor. Perbandingannya mencapai 4:3. Saat pemijahan telur yang dikeluarkan ikan betina tidak akan kekurangan sperma.
  2. Berdasarkan persentasi tingkat kematangan gonadnya, ikan-ikan di perairan tersebut belum siap untuk memijah. Kematanagan gonadnya rata-rata masih tahap perkembangan.
  3. Dilihat dari rata-rata indeks kematangan gonadnya, masih jauh untuk melakukan pemijahan.
  4. Tingkat pertumbuhan populasi ikan kembung di atas tidak sama, mungkin dipengaruhi oleh makanan.
  5. Berdasarkan data hasil penelitian ikan kembung diatas, tropik levelnya, ikan tersebut banyak mengkonsumsi jenis fito plankton dan daun-daunan. Ditemukan juga beberapa zooflankton.
  6. Dapat disimpulkan bahwa ikan tersebut termasuk ikan omnivora.
  7. Berdasarkan table relasi panjang berat maka sebagian besar b < 3, (b=log p x log b), ikan demikian disebut allometrik yaitu pertumbuhan panjang lebih cepat disbanding pertumbuhan berat. Ikan tipe ini akan terlihat kurus.

 

BAB VI

KESIMPULAN

 

  • Tingkat Kematangan Gonad dan Indeks Kematangan Gonad berguna untuk menentukan kesiapan ikan untuk memijah. TKG menghasilkan data kuantitatif dan IKG menghasilkan data kualitatif.
  • Food and Feeding Habits digunakan untuk menentukan kebiasaan makan suatu ikan. Berdasarkan hasil percobaan, ikan kembung termasuk omnivora, karena isi perutnya terdapat fitoplankton dan zooplankton.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dwi Setiawan, Hendy. 2009. Ususlan Tugas Akhir: Analisis Hubungan Anatar Panjang dan Berat Udang Putih. Prodi Budidaya Perikanan, Akademi Perikanan Wachyudi Mandira.

Effendie Msc, Prof. Dr. H. Moch Ichsan. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara.

Deskripsi ikan kembung dan penyebarannya www.fishbase.org dan www.fao.org

Klasifikasi ikan kembung www.zipcodezoo.com

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Kata Pengantar

Reproduksi adalah salah saatu cara suatu mahluk hidup mempertahankan kelangsungan hidupnya. Begitupun juga denga ikan, ikan merupakan salah satu mahluk hidup yang melakukan reprodusi untuk melestarikan/melangsungkan kehidupannya.

Pada dasarnya, ikan bersifat ovivar (bertelur). Jadi ikan melakukan reproduksi dengan cara bertelur.

Ikan melakukuan reproduksi pada sdaat musim ikan itu m,elakukan reprodusi, seiap ikan musimnya berbeda-beda. Musim reprodusi/pemijahan ikan mempengaruhi terhadap umlah telur yang dihasilkan ikat tersebut. Jika pada musimnya ikan akan mengeluarkan telur yang banyak. Selain itu juga jumlah telur yang dihasilkan dipengaruhi olehketersediaan atau asupan makanan yang dimakan oleh ikan.

Begitu pula dengan ikan mas. Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan ikan yang bersifat ovivar dalam system reproduksinya. Ikan mas juga merupakan ikan yang reprodusinya di pengaruhi oleh musim. Selain itu juga, jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan mas selain dipengaruhi musim, dipengarus=hi oleh asupan makanan yang dimakan.

Oleh karena hal di atas, dalam praktikum kali ini mempelajari mulai dari seksualitas ikan, tingkat kematangan gonad ikan, indeks kematangan gonad, dan kebiasaan makan ikan.

1.2  Tujuan Praktikum

Tujuan dari mpraktikum kali ini adalah :

  • Mengetahui indeks kematangan gonad ikan mas (Cyprinus carpio)
  • Mengetahui tingkat kematangan gonad ikan mas (Cyprinus carpio)
  • Mengetahui fekunditas dari ikan mas (Cyprinus carpio) , dan
  • Mengidentifikasi food feeding habits dari ikan mas (Cyprinus carpio)

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1 Bagian-bagian Tubuh Ikan

Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang bias menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi.

Ukuran tubuh ikan.

Semua ukuran yang digunakan merupakan pengukuran yang diambil dari satu titik ke titik  lain tanpa melalui lengkungan badan.

- Panjang total (TL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxillae) hingga ujung ekor.

- Panjang standar (SL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxillae) hingga pertengan pangkal sirip ekor (pangkal sirip ekor bukan berarti sisik terakhir karena sisik-sisik tersebut biasanya memanjang sampai ke sirip ekor)

- Panjang kepala (HL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir (premaxilla) hingga

bagian terbelakang operculum atau membran operculum.

- Panjang batang ekor (LCP) diukur mulai dari jari terakhir sirip dubur hingga pertengan pangkal batang ekor.

- Panjang moncong (SNL) diukur mulai dari bagian terdepan moncong/bibir hingga pertengan garis vertikal yang menghubungkan bagian anterior mata.

- Tinggi sirip punggung (DD) diukur mulai dari pangkal hingga ujung pada jari-jari pertama sirip punggung.

- Diameter mata (ED) diukur mulai dari bagian anterior hingga posterior bola mata, diukur mengikuti garis horisontal.

- Tinggi batang ekor (DCP) diukur mulai dari bagian dorsal hingga ventral pangkal ekor.

- Tinggi badan diukur (BD) secara vertikal mulai dari pangkal jari-jari pertama sirip punggung hingga pangkal jari-jari pertama sirip perut.

- Panjang sirip dada diukur mulai dari pangkal hingga ujung jari-jari sirip dada.

- Panjang sirip perut diukur mulai dari pangkal hingga ujung sirip perut.

2.2 Perkembangan Gonad

Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya. Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi yang tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses.

Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari system reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya (Hoar & Randall, 1983). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di perairan alami akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan, karena pada saat itu akan terjadi suatu perubahan lingkungan atau kondisi perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah (Sutisna, 1995). Faktor internal meliputi kondisi tubuh dan adanya hormone reproduksi (Redding & Reynaldo, 1993). Adapun faktor internal yaitu tersedianya hormon steroid dan gonadotropin baik dalam bentuk hormone Gonadotropin I (GtH I) dan Gonadotropin II (GtH II) dalam jumlah yang cukup dalam tubuh untuk memacu kematangan gonad diikuti ovulasi serta pemijahan. Sebaliknya bilamana salah  satu atau kedua hormon; tersebut tidak mencukupi dalam tubuh maka perkembangan oosit dalam ovarium terganggu bahkan akan berhenti dan mengalami atresia (Pitcher, 1995)

Faktor lingkungan merupakan stimuli yang dapat ditangkap oleh alat indera ikan seperti kulit, mata dan hidung. Informasi berasal dari lingkungan sampai di otak melalui reseptor yang terdapat pada masingmasing organ sensori.

Tingkat Perkembangan Gonad

Perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian pada pengamatan reproduksi ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari  eproduksi ikan sebelum terjadinya pemijahan. Sebelum terjadinya pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme dalam tubuh dipergunakan untuk perkembangan gonad. Pada saat ini gonad semakin bertambah berat diikuti dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk diameter telurnya. Berat gonad akan mencapai maksimum pada saat ikan akan berpijah, kemudian berat gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung sampai

selesai. Peningkatan ukuran gonad atau perkembangan ovarium disebabkan oleh perkembangan stadia oosit, pada saat ini terjadi perubahan morfologi yang mencirikan tahap stadianya. Pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pertambahan pada jantan sebesar 5-10%. Pencatatan perubahan kematangan gonad dapat digunakan untuk mengetahui bilamana ikan akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara yaitu :

i)                    cara  histologi yang dilakukan di laboratorium,

ii)                 pengamatan morfologi yang dilakukan di laboratorium dan dapat pula di lapangan.

Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Kesteven membagi tingkat kematangan gonad dalam beberapa tahap yaitu:

a. Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung, testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa.

b. Dara Berkembang. Testis dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar.

c. Perkembangan I. Testis dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih.

d. Perkembangan II. Testis berwarna putih kemerah-merahan, tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur dapat dibedakan dengan jelas, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisis kira-kira dua pertiga ruang bawah.

e. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testis berwarna putih, keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari telur ini jernih dan masak.

f. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan di perut. Kebanyakan telur berwarna jerinih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal dalam ovarium.

g. Mijah/Salin. Gonad belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang bulat telur.

h. Salin. Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.

i. Pulih Salin. Testis dan ovarium berwarna jernih, abu-abu merah. (Begenel & Braum (1968) dalam Effendie, 1997).

Indeks Kematangan Gonad (IKG)

Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad, tingkat perkembangan ovarium, secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan 100 persen (Effendie, 1979 dalam

Hadiaty, 2000).

IKG = Wg / W x 100%

Wg = berat gonad ; W = berat tubuh ikan

Indeks Kematangan Gonad atau “Gonado somatic Index“ (GSI) akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat terjadi pemijahan. Pada ikan betina nilai IKG lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan.

Penghitungan indeks kematangan gonad selain menggunakan perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan, dapat juga dengan mengamati perkembangan garis tengah telur yang dikandungnya hasil dari pengendapan kuning telur selama proses vitellogenesis. Perkembangan gonad akan diikuti juga dengan semakin membesarnya pula garis tengah telur yang 62dikandung di dalamnya. Sebaran garis tengah telur pada tiap tingkat kematangan gonad akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.

Fekunditas

Fekunditas ikan merupakan aspek yang berhubungan dengan dinamika populasi, sifatsifat rasial, produksi dan persoalan stok rekruitmen (Bagenal, 1978 dalam effendi 1997). Fekunditas merupakan kemampuan reproduksi ikan yang ditunjukkan dengan jumlah telur yang ada dalam ovarium ikan betina. Secara tidak langsung melalui fekunditas ini kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan.

Menurut Nikolsky (1963) jumlah telur yang terdapat dalam ovarium ikan dinamakan fekunditas individu. Dalam hal ini ia memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. selanjutnya ia menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula. Dalam ovari biasanya ada dua macam ukuran telur, yang besar dan yang kecil.

Hubungan fekunditas dengan panjang, berat dan populasi

Ø Fekunditas dengan panjang

Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang dari pada dengan berat, karena panjang penyusutannya relatif kecil sekali tidak seperti berat yang dapat berkurang dengan mudah. Seringkali para peneliti memplotkan fekunditas mutlak dengan panjang ikan dan hubungan itu ialah :

F = a Lb

Dimana F = fekunditas, L = panjang ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari data. Persamaan tersebut kalau ditransformasikan ke logaritma akan mendapatkan persamaan regresi garis lurus :

Log F = log a + b log L

Menurut Bagenal dalam Effendie (1997) harga eksponen b berkisar antara 2,34 – 5,28 dan kebanyakan berkisar di atas 3. Ada juga yang membuat Korelasi antara fekunditas dengan panjang dengan cara regresi biasa kemudian dites dengan melihat koefisien korelasinya. Hoyt (1971) mendapatkan persamaan untuk panjang ikan dengan jumlah telur masak dari ikan sliver jaw (Ericymba bucata) yaitu:

Y = (-1379,3 + 32,74 X) dengan koefisien korelasi r = 0,89

Korelasi ini memperlihatkan hubungan positif dan kuat dari kedua variabel. Pertambahan panjang berkorelasi dengan pertambahan telur. Healy (1971) mendapatkan korelasi hampir linier antara fekunditas dengan panjang ikan sand goby (Gobius minutus pallas), tetapi variasi diantara ikan yang sama panjang,

fekunditasnya berbeda-beda dan koefisien korelasinya rendah yaitu 0,55. dalam menyelidiki ikan fall fish (Semotilus corporalis), Reed (1971) mendapatkan hubungan antara fekunditas dengan panjang ikan ialah :

F = -14.913,3 + 76,7 L dengan koefisien korelasi r = 0,958

Ø Fekunditas dengan berat

Fekunditas mutlak sering dihubungkan dengan berat, karena berat lebih mendekati kondisi ikan itu dari pada panjang. Namun dalam hubungan fekunditas dengan berat terdapat beberapa kesukaran. Berat akan

cepat berubah pada waktu musim pemijahan. Misalnya ikan salmon dan sidat yang melakukan ruaya sebelum berpijah, mereka tidak lagi mengambil makanan, jadi berpuasa sampai ke tempat pemijahan. Jika fekunditas mutlak secara matematis dikorelasikan dengan berat total termasuk berat gonad akan

menimbulkan kesukaran secara statistik. Hal ini disebabkan akan termasukkan telur dalam jumlah yang lebih besar dari ikan yang sebenarnya berfekunditas kecil. Disebabkan oleh kesulitan ini, maka kebanyakan digunakan fekunditas relatif, yaitu berat telur persatuan berat ikan. Namun menggunakan fekunditas relatifpun mendapatkan kesukaran juga, karena tidak dapat dipakai membandingkan satu populasi dengan lainnya atau keadaan dari satu tahun ke tahun lainnya.

Pengunaan penghitungan fekunditas yang dikorelasikan dengan berat yang dituliskan dengan persamaan :

F = a + bW

dalam beberapa hal hasilnya baik, tetapi ternyata bahwa korelasi antara fekunditas dengan berat adalah tidak linier. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa berat gonad pada awal kematangan berbeda dengan berat akhir dari kematangan itu karena perkembangan telur yang dikandungnya. Selama dalam proses perkembangan tersebut terjadi pengendapan kuning telur yang berangsur-angsur serta terjadi hidrasi pada waktu hampir mendekati pemijahan.

BAB III

ALAT DAN BAHAN

3.1              Alat

  1. Cawan petri
  2. Hand counter
  3. Penggaris
  4. Kaca pembesar
  5. Pisau bedah
  6. Pinset

Bahan

  1. Ikan mas (Cyprinus caprio)
  2. Akuades

3.2              Langkah-langkah

  1. Ikann ditimbang terlebih dahulu
  2. Diukur panjang TL dan SL ikan tersebut
  3. Ikan di bedah, pisahkan gonad dan usus ikan ke tempat lain
  4. Timbang berat gonad untuk mendapatkan data IKGnya
  5. Buka usus ikan, untuk melihat makanan apa yang dimakannya.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Perhitungan Relasi panjang berat

Perhitungan relasi panjang dan berat  yaitu :

  1. Mengukur panjang total ikan mas (TL),
  2. Mengukur panjang standar (SL)
  3. Menghitung berat ikan

3.2  Indeks Kematangan Gonad

Indeks kematangan gonad di hitung dengan rumus :

Wg/W x 100%

3.3  Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad dilihat dengan mengacu pada teori Kesteven pada buku biologi perikanan.

3.4  Fekunditas

Fekunditas dapat di hitung berdasarkan :

  • Volume. Dengan rumus :

X : x = V : v

Keterangan : x = Jumlah telur di hitung secara manual

V = Perhitungan volume air stelah dimasukan air

3.5  Food feeding habits

Pengidentifikasian kebiasaan makannya dengan mengidentifikasi isi dari usus ikan, kemudian diamati di bawah mikroskof.

Data hasil praktikum biologi perikanan kelas B :

No Kelompok Seksualitas ikan Relasi Panjang Berat Perkembangan Gonad fekunditas
jantan betina tl sl tkg ikg
1 Anjar Wahyu A 32 29.5 790 bunting 13.9 177,314
Succy Lestari
Aep Ruhiat
2 Dewi Addinilia 22.5 18 240 mijah 4
Nur Zamzam
Aloysius Dimas
3 Dede Ahdiat 15.5 13 80 dara 5
Ramduni Barqah
Melati Annisa
4 Sugianto 23 19.5 185 perk.II 3.4
R.Rocky Savoetra
Febyanti Utami
5 Roy Docklas 17.5 15 150 perk.II 0.82
Arfiani Karuniasari
Reza Hamzah
6 Harry Akhbar D 21 17.5 180 perk.III 1.1
Vannie Elsis
Ranita Tyarawatty
7 Arief Rachman 18.5 16 100 dara 1.09
Nurdin Arif
Richardson Sitohang
8 Arya Bayu 16 13.5 60 perk.II 2.83
Harri Sidiq
9 Yurivalendra 14.6 12 39.5 bunting 7.31
Tegar Alghafany
Sandy Destra
10 Lela Komalasari 22.9 19.8 220 dara brkembng 2.2
M.Rudyansah
Nofi Puji
11 Nurfajri M 14.5 11.5 42 dara 0.01
Aini Andriyani
Taufik Hidayat
12 Galang Satrya 14 13 60 dara 0.91
Zano Maylendo
Rully Johan
13 Bayu Reksono 13.5 11.1 32.5 dara 1.48
Tommy Irawan
Rovi Rizkia
14 Rinaldi Amanta 20 16.5 129 bunting 8
Lucky Rizki
15 Windy Meuraxa 23.5 19.5 210 bunting 7
Wielmarte
Lukman Hakim
16 M.Iqbal 19.5 17.5 14.5 bunting 8.7
Devi Nurkhasanah
Samsuri
17 Raymond Marbun 16 13.6 56 bunting 7.5
Junianto Wibowo
Aji Tirta
18 Hendrawawansah 13.9 11.8 31.5 Perk.I 0.79
Azwan Ruswandi
19 Romauli Siskayani 18 17 156.3 dara brkembng 5
Riyanti Puspa
Setiani
20 Asep Sahidin 18.6 16.8 158.5 bunting 12
Eva Dini Erdiani
21 Ruddy Prawira 15 11 50 dara
Dimas Akhrulla
Irmasari
rata-rata 18.57 15.87 142.14 6.833
Jumlah 15 6 390 333.62 2985.04 bunting = 7 94,575 177,314
mijah = 1
Perk I = 1 4.5
Perk II = 2
Perk III = 1
dara = 5
dara berkmbang = 2

Nilai B

No Kelompok Panjang (cm ) berat (gr) log L log W log (LxW) (log L)^2
tl sl (L)
1 Anjar Wahyu A 32 29.5 790 1.47 2.89 4.36 2.1609
Succy Lestari
Aep Ruhiat
2 Dewi Addinilia 22.5 18 240 1.26 2.38 3.64 1.5876
Nur Zamzam
Aloysius Dimas
3 Dede Ahdiat 15.5 13 80 1.11 1.9 3.01 1.2321
Ramduni Barqah
Melati Annisa
4 Sugianto 23 19.5 185 1.29 2.27 3.56 1.6641
R.Rocky Savoetra
Febyanti Utami
5 Roy Docklas 17.5 15 150 1.18 2.18 3.36 1.3924
Arfiani Karuniasari
Reza Hamzah
6 Harry Akhbar D 21 17.5 180 1.24 2.26 3.5 1.5376
Vannie Elsis
Ranita Tyarawatty
7 Arief Rachman 18.5 16 100 1.2 2 3.2 1.44
Nurdin Arif
Richardson Sitohang
8 Arya Bayu 16 13.5 60 1.13 1.78 2.91 1.2769
Harri Sidiq
9 Yurivalendra 14.6 12 39.5 1.07 1.59 2.66 1.1449
Tegar Alghafany
Sandy Destra
10 Lela Komalasari 22.9 19.8 220 1.29 2.34 3.63 1.6641
M.Rudyansah
Nofi Puji
11 Nurfajri M 14.5 11.5 42 1.06 1.62 2.68 1.1236
Aini Andriyani
Taufik Hidayat
12 Galang Satrya 14 13 60 1.11 1.78 2.89 1.2321
Zano Maylendo
Rully Johan
13 Bayu Reksono 13.5 11.1 32.5 1.05 1.51 2.56 1.1025
Tommy Irawan
Rovi Rizkia
14 Rinaldi Amanta 20 16.5 129 1.22 2.11 3.33 1.4884
Lucky Rizki
15 Windy Meuraxa 23.5 19.5 210 1.29 2.32 3.61 1.6641
Wielmarte
Lukman Hakim
16 M.Iqbal 19.5 17.5 14.5 1.24 1.16 2.4 1.5376
Devi Nurkhasanah
Samsuri
17 Raymond Marbun 16 13.6 56 1.13 1.74 2.87 1.2769
Junianto Wibowo
Aji Tirta
18 Hendrawawansah 13.9 11.8 31.5 1.07 1.49 2.56 1.1449
Azwan Ruswandi
19 Romauli Siskayani 18 17 156.3 1.23 2.19 3.42 1.5129
Riyanti Puspa
Setiani
20 Asep Sahidin 18.6 16.8 158.5 1.23 2.2 3.43 1.5129
Eva Dini Erdiani
21 Ruddy Prawira 15 11 50 1.04 1.69 2.73 1.0816
Dimas Akhrulla
Irmasari
rata-rata 19.444 14.375 170.1333 1.1862 1.9714 3.15761905 1.4180048

Pembahasan :

Dari data diatas, jika dianggap semua ikan mas situ dari satu peraira dapat dapat disimpulkan bahwa:

  1. Perairan tersebut di dominasi oleh ikan mas jantan, dengan jumlah Jantan berjumlah 15 ekor, betina berjumlah 6 ekor. Perbandingannya mensapai 2:1. Untuk jenis spesies seperti ikan mas, itu bagus, karena pada saat betina melakukan pemijahan tidak akan kekurangan sperma.
  2. Persentasi tingkat kematangan gonadnya, ikan-ikan di peraiaran tersebut belum siap untuk mengeluarkan telurnya. Kematanagn gonadnya rata-rata masih tahap perkembangan.
  3. Dilihat dari rata-rata indeks kematangan gonadnya, masih jauh unutk melakukan pemijahan.
  4. Populasi pertumbuhan pada ikan mas di atas tidak sama, mungkin dipengaruhi oleh makanan.
  5. Berdasarkan data hasil penelitian ikan mas diatas, tropik levelnya, ikan tersebut banyak mengkonsumsi jenis fito plangton dan daun-daunan. Ditemukan juga beberapa zooflankton.

Dapat disimpulkan bahwa ikan tersebut termasuk ikan omnivore (pemakan segala).

BAB IV

KESIMPULAN

Tingkat kematangan gonad ikan mas dalam suatu perairan tidak lah sama, tergantung terhadap kondisi ikan dan makan yang terjadi. Besar tubuh dan berat ikan mempengaruhi terhadap perkembangan gonad ikan tersebut.

Pemijahan/ pengeluaran telur pada ikan dapat terjadi pada tahap ikan itu menginjak kematangan gonadnya pada fase Sali. Setelah memasuki fase itu, ikan akan siap mengeluarkan telurnya

Jumlah telur yang dihasilkan, juga dipengaruhi oleh musim. Seperti halnya ikan mas, ikan mas akan banyak mengeluarkan telur pada musim dingin

DAFTAR PUSTAKA

file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Cover%20Buku%20ajar%20(ikhtiologi).htm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.